Selasa, 19 Oktober 2010



PROPOSAL

KONTRIBUSI POWER TUNGKAI DAN FLEKSIBILITAS SENDI PANGGUL TERHADAP KELINCAHAN DALAM PERMAINAN BULUTANGKIS PADA CLUB GARUDA TANGKAS INDRAMAYU

A. Latar Belakang Masalah

Bulutangkis adalah salah satu cabang olahraga permainan yang banyak diminati oleh masyarakat di beberapa negara, khususnya di Indonesia. Ini terbukti dengan banyak berdirinya klub-klub bulutangkis dan banyak pula peminatnya yang didominasi mulai kelompok umur anak-anak, pemula, remaja, hingga kelompok umur taruna, sehingga sering diadakan kejuaraan bagi kelompok umur tersebut rutin tiap tahunnya sebagai ajang penyaluran bakat dan pencapaian prestasi.

Dalam dunia olahraga bulutangkis, suatu prestasi dapat tercapai jika atlet telah menguasai beberapa faktor yang dapat menunjang terhadap pencapaian suatu prestasi yang maksimal diantaranya adalah kondisi fisik, teknik, taktik dan mental. Selain faktor-faktor tersebut, untuk pencapaian prestasi puncak dalam olahraga bulutangkis, perlu adanya aplikasi pelatihan yang sistematis, aspek kontinuitas, program pelatihan yang dirancang dengan baik, dukungan sarana pelatihan yang memadai, serta terciptanya suasana pelatihan yang menyenangkan.

Menurunnya prestasi bulutangkis di tingkat internasional saat ini merupakan tantangan besar bagi para pelatih bulutangkis di Indonesia guna mempersiapkan atletnya dapat bermain seoptimal mungkin disetiap pertandingan, salah satunya dengan cara meningkatkan kondisi fisik atlet, seperti kualitas kekuatan, daya tahan, fleksibilitas, kecepatan, kelincahan, dan koordinasi gerak yang baik. Mengapa demikian? Karena berdasarkan pengamatan, bahwa permainan bulutangkis sarat dengan berbagai kemampuan dan keterampilan gerak yang kompleks, pemain harus melakukan gerakan-gerakan yang cepat, berhenti dengan tiba-tiba dan segera bergerak lagi, meloncat, menjangkau, memutar badan dengan cepat, melakukan langkah lebar dengan berusaha tidak kehilangan keseimbangan tubuh.

Gerakan-gerakan tersebut harus dilakukan berulang-ulang selama pertandingan berlangsung. Akibatnya akan menghasilkan kelelahan yang akan berpengaruh langsung pada kerja jantung, paru-paru, system peredaran darah, pernapasan, kerja otot, dan persendian. Karena itu atlet bulutangkis sangat penting memiliki derajat kondisi fisik prima, melalu proses pelatihan fisik yang terprogram dengan baik, faktor-faktor kelelahan tersebut dapat diatasi. Dengan kata lain atlet bulutangkis harus memiliki kualitas kebugaran jasmani yang prima, yang akhirnya akan berpengaruh langsung pada penampilan teknik bermain.

Sesuai dengan karakteristik gerakan dan tujuan permainan bulutangkis bahwa pada saat permainan berlangsung, masing-masing pemain harus berusaha menyerang untuk menjatuhkan shuttlecock di daerah permainan lawan dan bertahan untuk mencegah jatuhnya shuttlecock di daerah permainan sendiri. Oleh karena itu komponen fisik kelincahan sangat dibutuhkan setiap pemain bulutangkis, yang berguna agar pemain mampu bergerak dan bereaksi dengan cepat, tepat, tanpa pernah kehilangan keseimbangan dan kesadaran akan posisi tubuhnya dan menjangkau setiap sudut lapangan untuk berusaha mengembalikan shuttlecock ke daerah permainan lawan selama pertandingan. Mengenai pentingnya kelincahan terhadap permainan bulutangkis, Djide (2004:54) berpendapat bahwa:

Dalam olahraga bulutangkis faktor kelincahan sangat penting, oleh karena itu atlet yang tidak memiliki kelincahan akan sukar bergerak cepat di atas lapangan permainan untuk memainkan shuttlecock yang datangnya cock itu sangat cepat dan arahnya sulit diduga.

Hal ini didasarkan karena permainan bulutangkis memerlukan gerakan-gerakan yang cepat dan mendadak, sehingga kelincahan kaki yang baik merupakan salah satu pendukung untuk menguasai permainan bulutangkis secara baik pula. Adapun komponen fisik yang mendukung terhadap kelincahan dalam bermainan bulutangkis diantaranya power tungkai dan fleksibilitas sendi panggul.

Sejalan dengan hal tersbut, mengenai pentingnya power, fleksibilitas, dan kelinchaan. Harsono (2002:200) menjelaskan bahwa: “power terutama penting untuk cabang-cabang olahraga dimana atlet harus mengerahkan tenaga yang eksplosif”. Selanjutnya Harsono (2002:163) menjelaskan tentang pentingnya fleksibilitas sebagai berikut: “fleksibilitas penting sekali dalam hampir semua cabang olahraga, terutama cabang-cabang olahraga yang banyak menuntut gerak sendi”. Dan pentingnya kelincahan Harsono (2002:22) juga menjelaskan: “dalam cabang olahraga perorangan pun seperti tinju, pencak silat, bulutangkis, anggar, dsb, agilitas memegang peran yang sangat penting”.

Dari uraian tersebut penulis menafsirkan bahwa power tungkai dan fleksibilitas sendi panggul memegang peranan penting untuk menghasilkan kelincahan, sehingga kulitas permainan bulutangkis akan menjadi lebih baik. Namun selama ini belum diketahui seberapa besar kontribusi yang diberikan kedua komponen fisik tersebut terhadap kelincahan dalam permainan bulutangkis. Untuk itu penulis yang juga mempunyai anak didik di PB. Garuda Tangkas Indramayu mengamati bahwa prestasi yang diperoleh selama mengikuti kejuaran kurang memuaskan, karena kelincahan yang dimiliki oleh anak didik kurang mendukung terhadap pencapaian prestasi bulutangkis, yang apabila tidak diperbaiki atau tidak diteliti dari kekuarangan-kekurangan anak didik tersebut, maka pencapaian prestasi maksimal tidak akan pernah dicapai selama mengikuti kejuaraan. Hal ini dikarenakan kelincahan sangatlah penting terhadap pencapaian prestasi maksimal dalam cabang olahraga bulutangkis, sesuai dengan pernyataan Darwis dan Basa (2002:158-159) bahwa:

Kegunaan kelincahan ini secara langsung dalam olahraga adalah:

a. Mengkoordinasikan gerakan-gerakan berganda (simultan)

b. Mempermudah penguasaan teknik-teknik yang tinggi dalam setiap cabang olahraga

c. Gerakan efisien, efektif, dan ekonomis.

d. Mempermudah orientasi terhadap lawan dan lingkungan

Dari pernyataan tersebut penulis tertarik melakukan penelitian dalam cabang olahraga bulutangkis secara khusua mengenai unsur kondisi fisik yang menunjang terhadap kelincahan dalam permainan bulutangkis, dalam hal ini adalah power tungkai dan fleksibilitas sendi panggul.

B. Identifikasi Masalah

Dalam penelitian ini terdapat variabel terkait, yaitu kelincahan dalam permainan bulutangkis. Kelincahan tidak hanya berdiri sendiri, akan tetapi dipengaruhi oleh aspek-aspek fisik lain, seperti kelentukan (flexibility), kecepatan gerak (speed), daya ledak (power), koordinasi (coordination), dan kesimbangan (balance) hal ini sesuai dengan pendapat Harsono (2002:22) sebagai berikut: “…bahwa sebenarnya agilitas adalah kombinasi dari kecepatan, kekuatan, kecepatan reaksi, keseimbangan, fleksibilitias, dan koordinasi neuromuscular”.

Aspek-aspek fisik yang mempengaruhi terhadap variabel terikat (kelincahan) seperti power, fleksibilitas, kecepatan, keseimbangan dan koordinasi merupakan variabel bebasnya. Mengingat banyaknya variabel bebas dalam penelitian ini, yang apabila diteliti semua diluar kemampuan penulis sehingga akan diperoleh hasil yang tidak memuaskan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, maka perlu adanya pembatasan penelitian, yaitu:

1. Ruang lingkup penelitian ini hanya terbatas pada kontribusi power tungkai dan fleksibilitas sendi panggul yang berkaitan dengan kelincahan dalam permainan bulutangkis.

2. Variabel terikat: kelincahan dalam permainan bulutangkis.

Variabel bebas: power tungkai dan fleksibilitas sendi panggul.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut, maka permasalahan yang dianggap penting untuk diteliti lebih lanjut yaitu sebagai berikut:

1. Berapa besar kontribusi power tungkai terhadap kelincahan dalam permainan bulutangkis?

2. Berapa besar kontribusi fleksibilitas sendi panggul terhadap kelincahan dalam permainan bulutangkis?

3. Berapa besar kontribusi antara power tungkai dan fleksibilitas sendi panggul secara bersamaan terhadap kelincahan dalam permainan bulutangkis?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan masalah penelitian, adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui besarnya kontribusi power tungkai terhadap kelincahan dalam permainan bulutangkis.

2. Untuk mengetahui besarnya kontribusi fleksibilitas sendi panggul terhadap kelincahan dalam permainan bulutangkis

3. Untuk mengetahui besarnya kontribusi antara power tungkai dan fleksibilitas sendi panggul secara bersamaan terhadap kelincahan dalam permainan bulutangkis.

E. Manfaat Penelitian

Kegunaan yang diharapkan penulis dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Memberikan bahan informasi bagi para peneliti yang hendak meniliti atau menyelidiki hal-hal yang berhubungan dengan cabang olahraga bulutangkis terutama mengenai kelincahan dalam permainan bulutangkis.

2. Memberikan bahan masukan bagi para Pembina dan pelatih bulutangkis agar menekankan pentingnya latihan kondisi fisik terutama power tungkai dan fleksibilitas sendi panggul dalam kaitannya terhadap kelincahan dalam permainan bulutangkis.

F. Anggapan Dasar

Setelah penulis menguraikan permasalahan di atas maka anggapan dasarnya adalah sebagai berikut:

1. Power menurut Harsono (2002:24) disebutkan bahwa: “power adalah kemampuan otot untuk mengerahkan kekuatan maksimal dalam waktu yang amat singkat”

2. Power dijelaskan oleh Matjan et al (2007:14) bahwa : “tenaga ledak otot (muscle power) adalah suatu tingkat kemampuan otot melepaskan tenaga sebesar-besarnya dalam waktu yang singkat

3. Tungkai adalah anggota tubuh bagian bawah (lower body) yang tersusun oleh tulang paha atau tungkai atas, tulang tempurung lutut, tulang kering, tulang betis, tulang pangkal kaki, tulang tapak kaki, dan tulang jari-jari kaki.

4. Fleksibilitas adalah kemampuan gerak dari persendian tubuh. Mengenai batasan fleksibilitas dijelaskan oleh Harsono (2002:15) bahwa “kelentukan adalah kemampuan untuk bergerak dalam ruang gerak sendi”.

5. Sendi panggul adalah persendian yang dibentuk oleh dua buah tulang pangkal paha dan sebuah tulang kelangkang. Dilihat dari gerakannya, sendi panggul termasuk kedalam sendi peluru (articulation globoidea), yaitu sendi yang paling luas gerakkannya diantara persendian lainnya.

6. Menurut Setiawan (2002:116) bahwa “kelincahan (agilitas) adalah kemampuan seseorang untuk dapat mengubah arah dengan cepat dan tepat pada waktu bergerak tanpa kehilangan keseimbangan”

7. Sesuai dengan pendapat Tohar (2002:43); …Fasilitas alat adalah suatu alat yang langsung dipergunakan dalam melakukan kegiatan bermain bulutangkis yaitu: raket, shuttlecock, dan senar, sedangkan maksud dan fasilitas perlengkapan lapangan adalah suatu perlengkapan atau alat bantu yang berada di sekitar lapangan, dengan maksud apabila perlengkapan ini ada berarti permainan itu dapat berjalan dengan baik dan lancar, sesuai dengan peraturan yang ada. Fasilitas perlengkapan meliputi: lapangan bulutangkis, tiang net, net, hall atau ruangan tempat bertanding dan penerangan lampu.

G. Hipotesis

Berdasarkan anggapan dasar, adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “bahwa kontribusi power tungkai dan fleksibilitas sendi panggul sangat berpengaruh terhadap kelincahan dalam permainan bulutangkis”. Karena power tungkai dan fleksibilitas sangat menentukan keseimbangan pemain sehingga pemain tersebut licah dalam mempermainkan bulutagkis.

H. Definisi Operasional

Batasan mengenai istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Kontribusi, menurut Moeliono et al (2004:54) adalah “iuran uang, kepada perkumpulan, dsb. Dukungan, nilai masukan”. Jadi kontribusi dalam penlitian ini sinonim dengan sumbangan/dukungan atau identik pula dengan peranan.

2. Power, menurut Harsono (2002:200) bahwa “power adalah kemampuan otot untuk mengerahkan kekuatan maksimal dalam waktu yang sangat cepat”.

3. Tungkai, menurut Damiri (2004:56) adalah “disusun oleh tulang paha atau tungkai atas, tulang tempurung lutut, tulang kering, tulang betis, tulang pangkal kaki, tulang telapak kaki, dan tulang jari-jari kaki”.

4. Fleksibilitas, menurut Harsono (2002:163) bahwa “fleksibilitas adalah kemampuan untuk melakukan gerakan dalam ruang gerak sendi”.

5. Persendian, menurut Damiri (2004:63) adalah “perhubungan dua buah tulang atau lebih secara tidak langsung”.

6. Panggul, menurut Damiri (2004:7) adalah “dibentuk oleh dua buah tulang pangkal paha dan sebuah tulang kelangkang”.

7. Kelincahan, menurut Harsono (2002:21) bahwa “kelincahan adalah kemampuan untuk mengubah arah dan posisi tubuh dengan cepat dan tepat pada waktu sedang bergerak, tanpa kehilangan keseimbnagan dan kesadaran akan posisi tubuhnya”. Dan kelincahan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan untuk melangkah atau menjangkau setiap sudut lapangan permainan bulutangkis dengan cepat dan tepat tanpa kehilangan keseimbangan.

8. Permainan bulutangkis menurut Subardjah (2007:13) adalah “permainan yang bersifat individual yang dapat dilakukan dengancara satu orang melawan satu orang atau dua orang melawan dua orang. Permainan ini menggunakan raket sebagai alat pemukul dan kok sebagai objek pukul, lapangan permainan berbentuk segi empat dan dibatasi oleh net untuk memisahkan antara daerah permainan sendiri dan daerah permainan lawan”.

A. Tinjauan Teoritis

1. Karakteristik dan perlengkapan permainan bulu tangkis

Permainan bulutangkis adalah permainan yang bersifat individual atu perseorangan yang dapat dilakukan dengan cara satu orang melawan satu orang atau dua orang melawan dua orang. Permainan ini menggunakan raket sebagai alat pemukul dan shuttlecock sebagai objek yang dipukul, lapangan permainan berbentuk persegi panjang yang dibatasi oleh net untuk memisahkan antara daerah permainan sendiri dan daerah permainan lawan. Tujuan permainan bulutangkis adalah berusaha menyerang untuk menjatuhkan shuttlecock di daerah permainan lawan dan bertahan untuk mencegah jatuhnya shuttlecock di daerah permainan sendiri tanpa melakukan kesalahan yang melanggar peraturan permainan.

Ada beberapa nomor yang dapat dipertandingkan dalam permainan bulutangkis, yaitu tunggal (single), ganda (double), dan ganda campuran (mixed double). Pelaksanaannya juga dapat berupa perseorangan atau beregu. Pada perorangan misalnya kejuaraan All England, Indonesia Open, Malaysia Open, Japan Open, China Open, dan beberapa kejuaraan lainnya. Sedangkan beregu misalnya Kejuaraan Thomas Cup, Uber Cup, dan Sudirman Cap.

Permainan bulutangkis memerlukan sarana dan prasarana yang mendukung terhadap pelaksanaan permainan, seperti peralatan dan lapangan. Peralatan meliputi: raket dan shuttlecock, sedangkan lapangan meliputi: lapangan bulutangkis, net, tiang net, dan penerangan lampu. Sesuai dengan pendapat Tohar (2002:43)

…Fasilitas alat adalah suatu alat yang langsung dipergunakan dalam melakukan kegiatan bermain bulutangkis yaitu: raket, shuttlecock, dan senar, sedangkan maksud dan fasilitas perlengkapan lapangan adalah suatu perlengkapan atau alat bantu yang berada di sekitar lapangan, dengan maksud apabila perlengkapan ini ada berarti permainan itu dapat berjalan dengan baik dan lancar, sesuai dengan peraturan yang ada. Fasilitas perlengkapan meliputi: lapangan bulutangkis, tiang net, net, hall atau ruangan tempat bertanding dan penerangan lampu.

a. Raket bulutangkis

Raket dalam permainan bulutangkis berfungsi sebagai alat pemukul shuttlecock, karena karakteristik permainan bulutangkis menuntut gerakan yang cepat, maka usahakan raket yang digunakan harus ringan dan kuat, agar setiap saat selalu siap untuk pukulan yang secepat-cepatnya. Raket mempunyai beberapa bagian, yaitu : pegangan (handle), batang (shaft), leher (throat), kepala (head), dan daerah yang disenari (stringed area).

Dalam aturan bulutangkis internasional tidak menetapkan ukuran, bentuk, berat raket secara pasti. Namun dalam peraturan PBSI, Suhandinata (2008:6) menyebutkan bahwa: “panjang kerangka raket keseluruhan tidak boleh melibihi 680 milimeter dan lebar tidak boleh melibih 230 milimeter”. Dan berat raket yang biasa digunakan untuk pertandingan tidak boleh lebih dari 150 gram. Bentuk raket bulutangkis dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Raket Bulutangkis

b. Shuttlecock

Shuttlecock adalah benda yang dipukul bolak-balik melampui net, biasanya terbuat dari bulu angsa dan sudah memiliki standar yang ditentukan IBF (International Badminton federation). Mengenai shuttlecock, peraturan PBSI yang diterjemahkan oleh Suhandinata (1998:5) menyebutkan:

1) Shuttle dapat dibuat dari bahan alamiah dan atau sintetis. Dari bahan apapun juga shuttle dibuat karakteristik terbang secara umum harus mirip dengan shuttle yang dibuat dari bulu alamiah dengan gabus (cork base) yang ditutup selapis kulit tipis.

2) Shuttle harus memiliki 16 bulu yang tertancap pada gabus.

3) Bulu harus diukur dari ujungnya ke puncak gabus dan setiap helai shuttle harus sama panjangnya. Panjangnya boleh antara 62 mm – 70 mm.

4) Ujung-ujung bulu harus membentuk sebuah lingkaran dengan diameter antara 58 mm – 68 mm.

5) Bulu-bulu itu harus diikat secara kokoh dengan benang atau bahan lain yang sesuai.

6) Diameter gabus harus antara 25 mm – 28 mm dan dibulatkan pada bagian bawahnya.

7) Berat shuttle harus antara 4,74 gr – 5,50 gr.

Shuttlecock dikatakan bagus apabila dipukul menggunakan raket dengan tangan di bawah pinggang (under arms stokes), cock tersebut melayang dengan lurus tanpa adanya gerakan ke arah kiri atau kanan saat mengudara. Mengenai shuttlecock, Tohar (2002:45) berpendapat:

Shuttlecocok dianggap betul kecepatannya, jika seorang pemain yang bertenaga biasa, dari garis belakang memukul shuttlecock itu sekuat-kuatnya dengan pukulan dari bawah dan arah shuttlecock yang paralel dengan garis batasa samping dan menuju ke sudut atas, itu jatuh tidak kurang dari 30 cm dan tidak lebih dari 76 cm sebelum garis batas belakang yang ada diseberang.

Selanjutnya dalam peratuaran PBSI yang diterjemahkan oleh Suhandinata (2008:6) menyebutkan: “shuttle yang mempunyai kecepatan yang benar akan mendaarat tidak kurang dari 530 mm dan tidak lebih dari 990 mm terhitung dari garis belakang (back boundary line) lainnya”.

c. Lapangan permainan bulutangkis

Lapangan permainan bulutangkis berbentuk persegi panjang, dengan ukuran panjang 13,40 meter, lebar 6,10 meter, dan garis selebar 4 cm. garis tersebut haruslah jelas dan berwarna terang, misalnya putih atau kuning. Lapangan bulutangkis dapat digunakan di luar ruangan (out door courl) maupun di dalam ruangan (indoor courl), lapangan bulutangkis di luar ruangan banyak didirikan di atas tanah, semen cor, dan tehel. Namun di gedung olahraga biasanya sudah berupa semen yang dilapisi kayu lantai, dan lapangan yang diakui secara internasional adalah karpet yang terbuat dari karet keras namun elastis. Sedangkan untuk pertandingan resmi sampai saat ini hanya dmiainkan dalam ruangan yang lebih menguntungkan, karena shuttlecock tidak dipengaruhi oleh angin. Oleh karena itu ketinggian ruangan dan penerangan lampu perlu mendapatkan perhatian.

Ketinggian ruangan untuk pertandingan resmi adalah paling rendah 8 meter dari permukaan lantai sampai flafond atau atap, dan penerangan lampu diusahakan agar tidak memberikan cahaya langsung sehingga menyilaukan dan mengganggu pemain bila akan memukul shuttlecock. Untuk lebih jelasnya bentuk lapangan bulutangkis terlihat pada gambar 2

Gambar 2 Lapangan Permainan Bulutangkis

d. Net

Net merupakan pembatas berupa jaring yang membentang antara dua bidang permainan yang diikatkan pada tiang.

Fungsinya sebagai pemisah antara daerah permainan sendiri dengan daerah permainan lawan. Net ada permainan bulutangkis mempunyai ukuran tinggi 1,55 meter dari lantai, namun haruslah 1,52 dari permukaan tengah-tengah lapangan, lebaranya 76 cm. net harus dibuat dari tali halus atau serat berwarna gelap, yang tebalnya tidak kurang dari 15 mm dan tidak lebih dari 20 mm, besar lubang-lubang jaringnya tidak lebih dari 20 mm, dan puncak (top) harus diberi pita putih selebar 75 mm secara rangkap di atas tali net tersebut.

2. Power tungkai

Power merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang dibutuhkan hampir semua cabang olahraga, terutama cabang olahraga yang menuntut atletnya mempunyai daya ledak otot, seperti dalam cabang atletik, bela diri, olahraga permainan, dan sebagainya. Hal ini dijelaskan oleh Harsono (2008:200)

Power terutama penting untuk cabang-cabang olahraga ciman ateltnya harus menggerakkan tenaga yang eksplosif seperti nomor-nomor lempar dalam atletik dan melempar bola softball. Juga dalam cabang-cabang olahraga yang mengharuskan atletnya untuk menolak dengan kaki, seprti nomor-nomor lomat dalam ateltik, sprint, voli (untuk smes), dan nomor-nomor yang ada unsur akselerasi (percepatan) seperti balap lari, balap sepeda, mendayung, renang dan sebagainya

Adapun pengertian power oleh Harsono (2001:24) disebutkan bahwa: “power adalah kemampuan otot untuk mengerahkan kekuatan maksimal dalam waktu yang amat singkat”. Selanjutnya power dijelaskan oleh Matjan et al (2007:14) bahwa : “tenaga ledak otot (muscle power) adalah suatu tingkat kemampuan otot melepaskan tenaga sebesar-besarnya dalam waktu yang singkat”. Dan menurut Bucher (2004:348) bahwa: “Muscular power is the ability to release maximum force in the shortest period of time”. Maksud dari kalimat tersebut bahwa: “daya ledak otot adalah kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimal yang dikerahkan dalam waktu yang sependek-pendeknya”.

Berdasarkan pengertian dan pendapat mengenai power, maka dapat disimpulkan bahwa power adalah perpaduan atau penggabungan antara kekuatan dan kecepatan. Maksudanya kekuatan dapat dikatakan power apabila dilakukan dengan sangat cepat. Dalam rangka peningkatan prestasi olahraga bulutangkis, komponen kondisi fisik power perlu mendapatkan perhatian khusus, terutama power tungkai dan power lengan. Karena untuk mencapai prestasi puncak bukan hanya kekuatan saja yang diperlukan, tetapi diperlukan juga peningkatannya bagi komponen fisik kekuatan ini, yaitu power. Dan kekuatan merupakan dasarnya untuk membentuk power. Sesuai pendapat Harsono (2008:177) bahwa “strength tetap merupakan dasar (basis) dari power dan daya tahan otot”.

Tungkai adalah anggota tubuh bagian bawah (lower body) yang tersusun oleh tulang paha atau tungkai atas, tulang tempurung lutut, tulang kering, tulang betis, tulang pangkal kaki, tulang tapak kaki, dan tulang jari-jari kaki. Fungsinya sebagai penahan beban anggota tubuh bagian atas (upper body) dan segala bentuk gerakan ambulasi. Adapun fungsi tungkai menurut Damiri (2004:5) menyatakan bahwa: “tungkai sesuai fungsinya sebagai alat gerak, ia menahan berat badan bagian atas, ia memindahkan tubuh (bergerak), ia dapat menggerakkan tubuh kearah atas, dan ia adapat menendang, dan lain sebagainya”.

Berkiatan dengan hal tersebut, maka tungkai sebagai penggerak dalam permainan bulutangkis perlu memiliki power, yaitu otot yang selain kuat juga mampu menampilkan gerakan yang cepat. Hal ini dibutuhkan agar pemain dapat menjangkau setiap sudut lapangan untuk mengejar shuttlecock yang memerlukan lompatan seperti jumping smash, sehingga diperlukan gerakan tungkai yang cepat pula. Selain itu untuk menahan beban tubuhnya dan juga pengaruh gravitasi bumi sehingga menjadi beban ganda yang harus diterima tungkai tersebut. Untuk itu otot tungkai dituntut memliki power. Tidak dapat dipungkiri kenyataannya bahwa power tungkai mempunyai keterkaitan dengan prestasi permainan bulutangkis, oleh sebab itu sebelum atlet diterjunkan dalam pertandingan, atlet tersebut harus sudah memiliki tingkat kondisi fisik yang baik, dalam hal ini kemampuan daya ledak otot tungkai (power).

Agar otot tungkai memiliki power yang tinggi, maka harus diberi latihan-latihan yang sesuai dengan tuntutan tersebut, misalnya dalam metode latihan pliometrik seperti latihan lompat kodok (frog leaps), jingkat (hopping), bounding strides, bounding drives. Dan dalam metode weight training seperti squat jump, heel raise, step-up, dan sebagainya, dengan menerapkan prinsip-prinsip latihan secara benar, peningkatan kondisi fisik atlet dapat tercapai. Bentuk tungkai dan otot-ototnya dapat dilihat pada gambar 3

Gambar 3 Tungkai

3. Fleksibilitas sendi panggul

Selain komponen kondisi fisik power yang sangat penting perannanya terhadap hampir semua cabang olahraga, fleksibilitas juga merupakan unsur dasar fisik yang harus dimiliki oleh setiap atlet, agar atlet dapat bergerak dengan leluasa ke segala arah, baik ke kiri, ke kanan, maju, atau mundur. Fleksibilitas adalah kemampuan gerak dari persendian tubuh. Mengenai batasan fleksibilitas dijelaskan oleh Harsono (2001:15) bahwa “kelentukan adalah kemampuan untuk bergerak dalam ruang gerak sendi”. Selanjutnya menurut Setiawan (2002:114) bahwa “kelentukan adalah kemampuan seseorang untuk dapat melakukan gerak dengan ruang gerak seluas-luasnya dalam persendian”. Menurut Thompson (1991) yang diterjemahkan oleh Hasan (2003:74) bahwa “kelentukan adalah kemampuan untuk melakukan gerakan persendian melalui jangkauan gerak yang luas”. dan menurut Sajoto (2000:17) bahwa: “daya lentur (flexibility) adalah efektivitas seseorang dalam penyesuaian diri untuk segala aktivitas dengan penguluran tubuh yang luas”.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yang fleksibel atau lentur adalah orang yang mempunyai ruang gerak luas daam sendi-sendinya dengan dukungan otot-ototnya yang elastic. Karena fleksibilitas yang baik tidak hanya dipengaruhi oleh luasnya pergerakan persendian saja, namun dipengaruhi juga oleh otot-otot, tendon, dan ligament yang kuat dan elastis. Hal ini sesuai dengan pernyataan Harsono (2008:163) yaitu: “kecuali oleh ruang gerak sendi, kelentukan juga ditentukan oleh elastis tidaknya otot-otot, tendon, dan ligament”. Selanjutnya menurut Matjen et al (2000:14) bahwa “fleksibilitas erat sekali hubungannya dengan elastisitas satuan otot, tendon, dan ligament sekitar suatu persendian”.

Tingkat fleksibilitas yang tinggi akan sangat mempengaruhi pergerakan tubuh, atlet yang mempunyai tingkat fleksibilitas tinggi disertai otot-ototnya yang kuat, akan memungkinkan untuk dapat bergerak dengan cepat dan terlihat luwes atau tidak kaku. Oleh karena itu fleksibilitas penting sekali hampir semua cabang olahraga, terutama cabang-cabang olahraga yang banyak menuntut gerak sendi, salah satunya adalah permainan bulutangkis. Hal ini dijelaskan oleh Harsono (2008:163) bahwa:

Fleksibilitas penting sekali dalam hampir semua cabang olahraga, terutama cabang-cabang olahraga yang banyak menuntut gerka sendi seperti senam, loncat indah, beberapa nomor atletik, permainan-permaian dengan bola, anggar, gulat, dan sebagainya.

Selanjutnya Harsono (2008:163) menjelaskan tentang manfaatnya perbaikan dalam fleksibilitas, yaitu:

a. Mengurangi kemungkinan terjadinya cedera-cedera pada otot dan sendi.

b. Membantu dan mengembangkan kecepatan, koordinasi, dan kelincahan (agility).

c. Membantu perkembangan prestasi.

d. Menghemat pengeluaran tenaga (efisien) pada waktu melakukan gerakan-gerakan,dan

e. Membantu memperbaiki sikap tubuh.

Dengan mengetahui banyaknya manfaat serta peran fleksibiitas terhadap hampir semua cabang olahraga, maka hendaknya pelatih selalu memperhatikan atletnya untuk meningkatkan fleksibilitasnya melalui latihan-latihan peregangan otot dan latihan-latihan memperluas ruang gerak sendi-sendinya, seperti latihan peregangan statis, peregangan dinamis, peregangan pasif, peregangan kontraksi-relaksasi (PNF). Apabila seorang atlet sudah memiliki fleksibilitas yang baik, maka atlet tersebut akan lebih mudah dlam melakukan gerakn-gerakan yang benar, pengeluara tenaganya pun akan lebih efektif, dan gerakannya lebih lincah.

Sendi panggul adalah persendian yang dibentuk oleh dua buah tulang pangkal paha dan sebuah tulang kelangkang. Dilihat dari gerakannya, sendi panggul termasuk kedalam sendi peluru (articulation globoidea), yaitu sendi yang paling luas gerakkannya diantara persendian lainnya. Gerakan-gerakan yang dapat dilakukan pada sendi panggul, yaitu: fleksi, ekstensi, abduksi, aduksi, rotasi, dan sirkumduksi. Lebih lanjut lagi oleh Damiri (2004:98) bahwa gerakan-gerakan yang dapat dilakukan pada sendi ini adalah:

a. Mengayun tungkai ke depan (flexion/swinging forward/anteflexion)

b. Mengayun tungakai ke belakang (extentin/swinging backward/retrofelxion)

c. Mengangkat tungkai ke samping menjauhi poros tubuh (abductin/elevation/laterlward)

d. Menarik tungkai ke tengah mendekati poros tubuh (abduction/depression/medialward)

e. Memutar tungkai ke arad dalam (inward rotation/medial rotation/endo rotation), dan memutar tungkai ke arah luar (outward rotation/laterat rotation/exo rotation)

f. Sirkumduksi tungkai (circumduction)

Fleksibilitas berpangkal pada luas gerak bagian tubuh disekitar persendian tertentu, dan unsur-unsur yang menunjang terjadinya fleksibilitas pada sendi panggul dijelaskan oleh Damiri (1994:71-72) sebagai berikut:

Pada tungkai terdapat berbagai macam sendi diantaranya panggul (hip join/articulation coxae) sendi ini termasuk sendi peluru. Ada tulang-tulang yang membentuk sendi ini adalah tulang paha/tulang panggul (os coxae) dengan tulang paha (os femur). Sedangkan bagian tulang yang dihubungkan adalah acetabulum dilapisi jaringan rawan sendi dan tali-tali pengikat/ligementum, sehingga lebih memperkuat dan lebih menstabilkan kontruksi sendi ini.

Dalam kehidupan sehari-hari atau dalam kegiatan olahraga, sendi panggul juga berfungsi sebagai tempat yang memfasilitasi terjadinya perpindahan tenaga dari segmen bagian bawah (tungkai) ke segmen tubuh bagian atas (lengan). Sesuai pernyatan Hidayat (2008:99) bahwa:

Pola gerak dari setiap segmen adalah sebagai berikut:

Gerak initial yang diperoleh dari segmen sebelumnya (pangkal;) dilanjutkan oleh segmen tersebut dan diteruskan ke segmen berikutnya sehingga segmen yang paling akhir (ujung) menghimpun kecepatan geraknya secara maksimal.

4. Kelincahan

Kelincahan merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang penting dalam menunjang setiap kegiatan olahraga, seperti yang dikatakan Harsono (2001:22) sebagai berikut:

……dalam banyak cabor, terutama dalam cabor-cabor permainan seperti voli, basket, sepak bola, hoki, softball, ds. Dalam cabang olahraga perorangan pun seperti tinju, pencak silat, bulutangkis, anggar dsb. Agilitas memegang peran yang sangat penting.

Seperti dalam cabang olahraga bulutangkis, kelincahan sangat dibutuhkan agar pemain dapat menjangkau setiap sudut lapangan untuk mengejar datangya shuttlecock yang sangat cepat, sehingga diperlukan gerakan-gerakan tubuh yang cepat pula dalam bergerak dan mengubah arah posisi tubuhnya. Oleh sebab itu kelincahan dalam permainan bulutangkis sangat penting, mengenai hal tersebut Subardjah (2000:17) mengatakan:

Tidak dipungkiri bahwa cabang ini memerlukan kecepatan dan mobilitas pergerakan dikombinasikan dengan agilitas yang biasanya dimanfaatkan untuk menutup lapangan, atau untuk mengejar kok ke segala arah, pergerakannya cepat dan disusul perubahan arah, baik ke muka, ke belakang, ke samping kiri dan kanan.

Mengenai batasan kelincahan disebutkan oleh Harsono (2001:21) bahwa “Kelincahan ialah kemampuan untuk mengubah arah dan posisi tubuh dengan cepat dan tepat pada waktu sedang bergerak, tanpa kehilangan keseimbangan dan kesadaran akan posisi tubuhny”. Menurut Setiawan (2002:116) bahwa “kelincahan (agilitas) adalah kemampuan seseorang untuk dapat mengubah arah dengan cepat dan tepat pada waktu bergerak tanpa kehilangan keseimbangan”. Menurut Matjan et al (2000:14) “Agilitas adalah kemampuan seseorang merubah arah dengan cepat tanpa kehilangan keseimbangan”. Dan menurut Bucher (2004:349)”Agility is ability of the individual to change position in space”. Maksudnya bahwa “kelincahan adalah kemampuan seseorang untuk merubah posisi di tempat tertentu”.

Berdasrkan batasan-batasan tersebut, dapat penulis katakana bahwa orang yang mempunyai kelincahan yang tinggi adalah orang yang dapat bergerak dengan cepat, mengubah arah dengan baik tanpa pernah menemukan kesulitan yang berarti untuk melakukannya. Yaitu kesulitan untuk menampilkan suatu rangkaian gerakan yang kompleks secara mulus (smooth and fluid motion), tepat (precise) dan efisien. Contohnya dalam permainan bulutangkis, seorang pemain yang akan melakukan rangkaian gerakan jumping smash seperti menolak, meloncat, sikap tubuh di udara, memukul shuttlecock, kemudian mendarat. Semua rangkaian gerakan itu dapat dilakukan dengan mulus tanpa kehilangan keseimbangan.

Apabila seseorang mempunyai kelincahan yang baik, dengan sendirinya dia memiliki kecepatan, fleksibilitas, kekuatan, keseimbangan, dan koordinasi yang baik pula, karena komponen-komponen kondisi fisik tersebut merupakan pendukung dari kelincahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Harsono (2001:22) “….bahwa sebenarnya agilitas atau kelincahan adalah kombinasi dari kecepatan, kekuatan, kecpatan reaksi, keseimbangan, fleksibilitas, dan koordinasi neuromuscular”. Dan menurut Giriwijoyo (2002:43) bahwa:

Dari analisa terhadap gerakan kelincahan dapat dikemukakan bahwa untuk dapat meningkatkan kelincahan diperlukan kualitas yang baik dan karena itu perlu diberikan latihan khusus terhadap:

a. Luas pergerakan persendian untuk meningkatkan kelentukan

b. Kekuatan otot untuk meningkatkan kecepatan gerak

c. Koordinasi fungsi otot untuk meningkatkan ketepatan gerak.

Hal ini disebabkan oleh karena kelincahan memerlukan:

a. Kelentukan (flexibility)

b. Kecepatan gerak (speed)

c. Ketepatan gerak (accuracy)

Sebagai contoh dalam permainan bulutangkis setiap pemain harus selalu siap mengejar arah datangnya shuttlecock yang sangat cepat dan sulit diduga, sehinagga pemain berusaha bergerak ke segala arah sudut lapangan permainan dengan capat dan tepat agar shuttlecock tersebut dapat dikembalikan kearah permainan lawan dan tidak jatuh di daerah permainan sendiri. Oleh karena itu permainan bulutangkis menuntut para atletnya untuk memiliki kelincahan yang baik. Untuk mendapatkan kelincahan yang baik, tentunya atlet harus diberikan latihan-latihan yang sesuai dengan tuntutan tersebut. Bentuk-bentuk latihan yang dapat mengembangkan kelincahan adalah bentuk-bentuk latihan yang mengharuskan orang bergerak dengan cepat dan mengubah arah dengan lincah, seperti lari bolak-balik (shuttle run), lari belak-belok (zig zag run), lari boomerang, lari envelop, haling rintang, hexagon, dan sebagainya. Dapat pula latihan kelincahan ini dimodifikasi sesuai cabang olahraganya yang lebih spesifik, misalnya dalam pemainan bulutangkis, untuk melatih menggunakan latihan shadow badminton. Yang penting dalam latihan tersebut, atlet dituntut untuk lari cepat, mengubah arah dengan cepat, tidak kehilangan keseimbangan dan posisi tubuhnya.

Dari penjelasan tersebut, penulis mencoba menyimpulkan bahwa kelincahan sangat berperan terhadap pelaksanaan cabang olahraga, khususnya cabang olahraga permainan bulutangkis. Seorang pemain bulutangkis tanpa memiliki kelincahan yang baik, maka pemain terssebut akan menemukan kesulitan pada saat bermain. Sehingga berpengaruh langsung terhadap prestasinya. Sebagai contoh pentingnya kelincahan dalam permainan bulutangkis adalah pemain harus selalu lincah dalam menjangkau setiap sudut lapangan permainan, baik itu maju, mundur, geser ke samping kiri atau kanan, untuk berusaha mengembalikan datangnya shuttlecock ke daerah permainan lawan.

5. Peranan power tungkai dan fleksibilitas sendi panggul terhadap kelincahan dalam permainan bulutangkis

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa komponen kondisi fisik yang baik menunjang terhadap kelincahan adalah kombinasi kekuatan, kecepatan, fleksibilitas, keseimbangan dan koordinasi. Namun dalam pembahasan ini, penulis hanya menjelaskan power (kekuatan + kelincahan), dan fleksibilitas saja peranannya terhadap kelincahan, khususnya power tungkai dan fleksibilitas sendi panggul.

Dalam cabang olahraga khususnya cabang olaharaga bulutangkis. Kemampuan menolak kemudian meloncat, memutar badan, mengayun raket, memukul shuttlecock, dan gerakan-gerakan lainnya dengan cepat dan lincah hal ini jelas membutuhkan power. Berkaitan dengan gerakan-gerakan tersebut, maka power tungkai mempunyai pengaruh besar terhadap penampilan atlet guna menampilkan kelincahan dalam suatu permainan. Sesuai dengan pendapat Harsono (2008:200) bahwa:

Power terutama penting untuk cabang-cabang olahraga di mana atlet harus mengarahkan tenaga yang eksplosif seperti nomor-nomor lempar dalam ateltik dan melempar bola softball. Juga dalam cabang-cabang olaharaga yang mengharuskan atlet untuk menolak dengan kaki, seperti nomor-nomor lompat dalam atletik, sprint, voli (untuk smash), dan nomor-nomor yang ada unsure akselerasi (percepatan) seperti balap lari, balap sepeda, mendayung, renang, dan sebagainya.

Dari pendapat tersebut penulis mencoba menafsirkan kegunaan dan fungsinya power tungkai terhadap permainan bulutangkis, yaitu sebagai berikut:

a. Meningkatkan kecepatan langkah kaki

b. Menambah tinggi loncatan

c. Mendukung kelincahan kerja kaki (footwork).

Aplikasi dalam permainan bulutangkis diantaranya meningkatkan kecepatan langkah kaki dalam menjangkau setiap sudut lapangan, menambah tinggi lompatan saat melakukan pukulan jumping smash, dan sebagai pendukung kelincahan kerja kaki pda saat mengejar datangnya shuttlecock yang arahnya berubah-ubah. Dari penjelasan tersebut tampatlah jelas arti pentingnya power tungkai terhadap kelincahan dalama permainan bulutangkis, yaitu pada saat pemain melangkahkan kakinya untuk mengejar shuttlecock atau pada saat melompat untuk melakukan pukulan-pukulan yang memerlukan lompatan.

Selain power tungkai yang mempunyai dukungan terhadap kelincahan dalam permainan bulutangkis, fleksibilitas sendi panggul juga memiliki peranan terhadap kelincahan dalam permainan bulutangkis. Hal ini diperjelas oleh pernyataan Harsono (2001:17) bahwa:

Bulutangkis juga memerlukan kualitas kelentukan yang baik. Hal ini misalnya tampak dalam pengambilan bola jauh yang memerlukan lebar langkah, sehingga pemain harus mampu melkaukan gerakan split seperti sering didemontrasikan oleh Susi Susanti.

Dari pernyataan tersebut, dapat dapat dikatakan bahwa dalam permainan bulutangkis fleksibilitas sendi panggul berguna sebagai poros (penghubung antara tubuh bagian atas dengan tubuh bagian bawah) pada saat adanya perubahan arah gerakaan secara cepat dan tepat tanpa kehilangan keseimbangan. Begitu juga pada saat menjangkau shuttlecock, dengan fleksibilitas sendi panggul yang baik akan memudahkan pergerakan kaki yang labih leluasa dalam melakukan langkah yang labih lebar.

6. Analisis gerakan kerja kaki (footwork)

Tanggungjawab seorang peltih, selain memperhatikan kondisi fisik ateltnya juga selalu menganalisa penampilan atlet pada waktu bermain, hal ini berfungsi sebagai bahan evaluasi setelah lamanya proses latihan, sehingga adanya perbaikan-perbaikan baik itu fisik, teknik, taktik ataupun mental pada periode latihan berikutnya.

Dalam kamus istilah olahraga dari DEPDIKBUD (1992:56) disebutkan bahwa “footwork adalah gerak kaki yang berubah dalam mengatur keseimbangan”. Selanjutnya menurut Subardjah (2000:27) bahwa “footwork adalah gerakan-gerakan langkah kaki yang mengatur badan untuk menempatkan posisi badan sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam melakukan gerakan memukul kok sesuai dengan posisinya”.

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa footwork dalam bulutangkis adalah gerakan-gerakan kaki untuk menempatkan posisi badan sedemikian rupa untuk menghadapi shuttlecock, sehingga dapat melakukan pukulan dengan baik dan selalu dalam keadaan seimbang. Tujuannya adalah agar pemain dapat bergerak seefisien mungkin ke segala arah dari lapangan permainan, juga berfungsi untuk menghasilkan pukulan bekualitas dan terarah, apabila footwork tersebut dilakukan dengan posisi baik. Hal ini dijelaskan oleh Poole (2006:50) bahwa: “Tujuan dari footwork yang baik adalah supaya pemain dapat bergerak seefisien mungkin ke segala bagian dari lapangan”. Dalam permainan bulutangkis gerakan kaki juga mempunyai peranan yang sangat pening, karena permainan ini adalah permainan yang cepat dan mengusahakan shuttlecock tidak jatuh di daerah permainan sendiri, sehingga setiap pemain selalu berusaha untuk begerak ke segala arah dengan cepat. Untuk itu teknik footwork yang benar sangat perlu dikuasai oleh setiap pemain.

Agar tujuan dari footwork tercapai, maka diperlukan adanya dukungan dari komponen fisik yang salah satunya adalah kelincahan, seperti yang dikemukakan Tohar (2001:66) sebagai berikut: “gerakan kaki yang lincah dan teratur berarti pemain itu dapat menguasai seluruh lapangan dan keseimbangan badan bisa dijaga serta mempunyai posisi yang enak dalam melakukan pukulan”.

Dari kutipan tersebut dapat diketahui bahwa kelincahan sangat penting untuk mendukung pegerakan kaki dalam pemainan bulutangkis, yang akhirnya akan berdampak langsung terhadap penampilan teknik bermain. Begitu juga sebaliknya, teknik footwork yang baik akan sangat mendukung terhadap penampilan kelincahan dalam permainan, percuma apabila seorang pemain hanya mempunyai kelincahan tanpa adanya dukungan dari teknik footwork yang baik. Jadi dapat disimpulkan bahwa untuk dapat menampilkan teknik bermain bulutangkis yang baik, diperlukan komponen fisik kelincahan dan teknik footwork yang saling mendukung.

Untuk melakukan gerakan melangkah dalam permainan bulutangkis tergantung situasi dari arah dan tempat datangnya shuttlecock, ada saatnya pemain harus memukul tanpa melangkah lebih dahulu, ada saatnya bergerak dulu satu langkah atau lebih kemudian memukul, ini semua tergantung pada arah datangnya shuttlecock. Ada beberapa macam langkah dalam bulutangkis, yaitu langkah meloncat, langkah berurutan, dan langkah perpaduan antara dua langkah terebut.

Prinsipnya dalam pemainan bulutangkis, untuk melakukan langkah, pemain yang memukul dengan tangan kanan, maka langkah terakhir selalu diakhiri dengan kaki kanan. Begitu juga sebaliknya, bagi pemain yang memukul dengan tangan kiri (kidal), maka langkah terakhir selalu diakhiri dengan kaki kiri. Ada beberapa arah yang harus dikuasai oleh pemain bulutangkis dalam melakukan gerakan langkah kaki secara baik dan benar serta cepat dan tepat. Seperti yang dijelaskan oleh Poole (2006:50): “ada enam daerah dasar dan ke tempat-tempat tersebut anda harus dapat bergerak secara efektif. Lakukan pukulan anda, dan langsung kembali ke kedudukan di tengah lapangan”. Namun menurut penngamtan penulis setelah sering melakukan permainan bulutangkis, dapat dikemukakan bahwa ada delapan arah pergerakan langkah kaki dalam permainan bulutangkis, yaitu: ke arah kanan depan, ke arah kiri depan, ke arah depan lurus, ke arah samping kanan, ke arah samping kiri, ke arah belakang kanan, ke arah belakang kiri, ke arah belakang lurus. Analisa mengenai gerkan langkah kaki dari masing-masing arah adalah sebagai berikut:

a. Pergerakan langkah kaki ke kiri depan

Untuk pukulan backhanda underhand, baik netting atau clear. (gambar 4)

Gambar 4. Pergerakan ke arah kiri depan untuk pukulan backhanda Underhand baik netting atau clear.

Urutan langkah kaki dalam pergerakan ke arah kiri depan adalah sebagai berikut:

1) Dari posisi siap (berdiri siap di tengah-tengah lapangan), langkah pertama adalah langkah kaki kiri dengan ibu jari menghadap serong ke sudut kiri depan lapangan.

2) Langkah berikutnya adalah langkah kaki kanan. Ibu jari kaki kanan menghadap serong kiri depan dan bahu menghadap ke jaring/net, berat badan pindah ke kaki kanan pad saat melakukan pukulan.

3) Tarik mundur kaki kanan dan kemabalilah ke tengah lapangan (posisi siap) dengan langkah mundur pendek-pendek.

Pergerakan langkah kaki ke arah kiri depan ini adalah untuk menjangkau shuttlecock yang dipukul lawan dalam bentuk netting atau dropshot ke arah kiri depan.

b. Pergerakan langkah kaki ke kanan depan

Untuk pukulan forehand underhand, baik netting atau clear. (gambar 5)

Gambar 5. Pergerakan ke arah kiri depan Untuk pukulan forehand underhand, baik netting atau clear . Sumber:

Untuk langkah dalam pergerakan ke arah kanan depan adalan sebagai berikut:

a. Dari posisi siap, langkah pertama adalah langkah kaki kiri ke arah serong kanan depan, sehingga bahu kiri menghadap ke jaring/net.

b. Langkah berikutnya adalah langkah panjang dari kaki kanan, sehingga berat badan pindah ke kaki kanan dan badan menghadap kembali ke jaring/net. Pada saat melakukan pukulan, kaki terentang lebar dengan kaki kanan berada di depan kaki kiri.

c. Unbtuk kembal

Pergerakan langkah kaki ke arah kanan depan adalah untuk menjangkau shuttlecock yang dipukul oleh lawan dalam bentuk netting atau dropshot ke arah kanan depan.

c. Pergerakan langkah kaki ke samping kiri

Untuk pukulan backhand side arm, baik pukulan drive, clear, dan dropshot, dimana shuttlecock jauh di samping kiri badan.

Gambar 6. Pergerakan ke samping kiri, untuk pukulan drive, clear, dan dropshot backhanda.

Pergerakan kaki untuk melangkah ke samping kiri adalah sebagai berikut:

a. Dari posisi siap, gerakan pertama adalah memutar kaki kiri dan melangkah ke arah samping kiri, sehingga ibu jari kaki kiri mengarah ke garis samping, bahu menghadap ke jaring/net.

b. Berikutnya adalah gerakan melangkah dari kaki kanan yang panjang dan merupakan langkah terakhir dengan lanjutan gerakan memukul. Pada saat raket bergerak ke posisi memukul, bahu harus mengarah ke garis samping.

c. Akhirilah selalu dengan berat badan pada kaki kanan pada saat melakukan pukulan. Kembalilah ke posisi siap dengan menarik kaki kanan dan kaki kiri diputar sehingga badan menghadap lagi ke jaring/net.

Pergerakan langkah kaki ke arah samping kiri ini adalah untuk menjangkau shuttlecock yang dipukul lawan dalam benuk smash, drive, dan dropshot ke arah samping jauh dari badan pada posisi backhanda.

d. Pergerakan langkah kaki ke samping kanan

Untuk pukulan forehand side arm, baik drive, clear, atau dropshot, dimana shuttlecock jauh dari badan di samping kanan.

Gambar 7. pergerakan ke samping kanan, untuk pukulan forehand side arm drive, clear, dan dropshot.

Pergerakan langkah kaki ke samping kanan adalah sebagai berikut:

a. Dari posisi siap, gerakan pertama adalah melangkahkan kaki kiri melewati kaki kanan, bersamaan dengan itu kaki kanan berputar ke arah kanan sehingga kaki mengarah ke garis samping kanan.

b. Langkah berikutnya adalah langkah kaki kanan. Berat badan pindah ke kaki kanan dan badan tetap menghadap ke jaring/net. Pada saat raket digerakan ke posisi memukul, kaki terentang dan kaki kanan berada di depan.

c. Kembalilah ke tenagh lapangan untuk posisi siap setelah pukulan dilakukan.

Pergerakan langkah kaki ke arah samping kanan ini adalah intuk mengembalikan pukulan dari lawan dalam bentuk pukulan smash, drive, dropshot, ke arah forehand.

e. Pergerakan langkah kaki ke depan tengah

Untuk pukulan underhand, baik forehand maupun backhanda, untuk jenuis pukulan netting atau clear. (gambar 8)

Gambar 8. pergerakan ke depan tengah, untuk pukulan underhand, backhanda, atau forehand sjenis netting atau clear.

Adapun rangkaian gerakannya adalah sebagai berikut:

a. Dari posisi siap, gerakan pertama adalah melangkahkan kaki kiri ke depan lurs, berat badan pada kaki kiri.

b. Gerakan berikutnya melangkahkan kaki kanan ke depan melewati kaki kiri dan berat badan pindah ke kaki kanan. Pada saat melakukan pukulan, kaki kanan berada di depan.

c. Kembalilah ke posisi siap dengan menarik kaki kanan, dan mundur dengan langkah pendek.

Pergerakan langkah kaki ke depan tengah adlah untuk menjangkau pukulan dari lawan dalam bentuk netting atau dropshot yang jatuh di tengah depan lapangan.

f. Pergerakan langkah kaki ke belekang tengah

Untuk melakukan pukulan forehand, baik smash, dropshot, dan lob penuh atau lob serang.

Gambar 9. pergerakan kakai ke belakang tengah untuk pukulan forehand baik smash, dropshot, lob penuh, lob serang

Adapun rangkaian gerak langkah kakinya adalah sebagai berikut:

a. Dari posisi siap, gerakan pertama adalah langkahkan kaki kanan mundur ke belakang, sehingga berat badan pindah ke kaki kanan.

b. Langkah berikutnya adalah langkahkan kaki kiri, yaitu mundur ke belakang kaki kanan dan berat badan pindah ke kaki kiri.

c. Langkah terakhir adalah langkah kaki kanan, yaitu mundur melewati kaki kiri dan berat badan pindah ke kaki kanan. Pada asaat melakukan pukulan, kaki kanan berada di belakang dan sesudah melakukan pukulan, kaki kanan pindah ke depan kaki kiri.

d. Kembalilah ke posisi siap, yaitu dengan melangkahkan kaki kiri ke depan dan bergantian dengan kaki kanan sehingga sampai pada tengah-tengah lapangan.

Pergerakan langkah kaki ke belakang tengah adalah untuk menjangkau shuttlecock dyang dipukul oleh lawan dalam bentuk lob penuh yang mengarah ke tengah belakang.

g. Pergerakan langkah kaki ke belakang kanan

Untuk pukulan forehand, baik smash, drive, dropshot, atau lob penuh atau lob serang. (gambar 10)

Gambar 10. pergerakan ke belakang kanan, untuk pukulan forehand baik smash, dropshot, drive, lob penuh, atau lob sedang

Adapun rangakaian gerakkan kakinya adalah sebagai berikut:

a. Pada posisi siap, putarlah kaki kanan ke arah kanan dan lengkahkan ke belakang, sehingga ibu jarinya menyerong ke samping depan dan badan menghadap serong kanan depan.

b. Langkah berikutnya adalah langkah kaki kiri ke belakang kanan melewati kaki kanan.

c. Langkah berikutnya adalah langkah kaki kanan, dimana ibu jari kakinya mengarah ke garis samping kanan dan berat badan pindah ke kaki kanan. Pada saat melakukan pukulan, kaki kanan berada di belakang kaki kiri dan setelah pukulan dilakukan kaki kanan pindah ke dapan kaki kiri.

d. Kembalilah ke posisi siap, yaitu dengan menarik kaki kiri ke depan dan bergantian dengan kaki kanan, sehingga sampai pad posisi siap.

Pergerakan langkah kaki ke belakang kanan adalah untuk menjangkau shuttlecock yang dipukul lawan dalam bentuk lob penuh ke arah belakang kanan.

h. Pergerakan langkah kaki ke belakang kiri

Untuk pukulan backhanda, baik smash, drive, dropshot, lob penuh atau lob serang. Gambar (11).

Adapun rangkaian gerakan kakinya adalah sebagai berikut:

a. Dari posisi siap, langkahkan kaki kanan ke belakang lurus, sehingga berat badan berada pada kaki kanan, badan tetap menghadap ke jarring/net.

b. Langkah kaki berikutnya adalah langkah kaki kiri ke belakang melewati kaki kanan dan ibu jari kaki mengarah ke garis samping kiri dan ibu jari kaki kanan ikut berputar dan mengarah serong ke samping kiri depan.

c. Langkah terakhir adalah langkah kaki kanan yaitu melewati kaki kiri sehingga badan menghadap serong kiri belakang. Pada saat melakukan pukulan, berat badan berada pda kaki kanan yang berada dibelakang dan sesudah pukulan dilakukan, kaki kanan tarik lagi ke depan, sehingga kaki berada di belakang.

d. Kembalilah ke posisi siap, yaiu degan menarik kaki kiri ke depan dan bergantian dengan kaki kanan, sehingga sampai pada posisi siap.

Pergerakan kaki ke belakang kiri adalah untuk menjangkau shuttlecock yang dipukulb lawan dalam bentuk lob penuh ke arah belakang kiri.

Pada permainan sebenarnya, pergerakan langkah kaki ke arah manapun tergantung pada arah shuttlecock yang dating dari hasil pukulan lawan, baik itu smash, dropshot, netting, drive, lob penuh, atau lob serang. Selain tergantung arh shuttlecock yang dating, pergerakan kaki ini juga tergantung pda tujuan pukulan yang akan dilakukan oleh pemain tersebut ke daerah lawan, apakah mau memukul dengan smash, dropshot, netting drive, lob penuh, lob serang.

Pola permainan menyerang atau bertahan dapat kita lihat dari pukulan-pukulan yang dilakukan oleh pemain itu sendiri. Pukulan yang dilakukan oleh pemain tipe menyerang, yaitu pukulan yang arah shuttlecocknya turun atau tajam, seperti smash, dropshot, atau lob serang. Sedangkan pola permainan bertahan, yaitu pola permainan yang pukulan-pukulannya naik atau melambung, seperti lob penuh baik itu forehand maupun backhanda.

7. Anggapan dasar

Anggapan dasar adalah suatu pendapat atau opini yang telah diyakini kebenarannya dan dijadikan titik tolak penelitian dalam memecahkan suatu masalah. Sesuai penjelasan Surakhmad yang dikutip Arikunto (2002:58) bahwa “anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarnnya diterima oleh penyidik”.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam permainan bulutangkis, kelincahan merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang sangat dibutuhkan guna memungkinkan pemain untuk dapat bergerak lebih cepat dan lincah pada saat menjangkau setiap sudut lapangan permainan untuk berusaha memukul dan mengembalikan datangnya shuttlecock ke daerah permainan lawan, yang arah shuttlecock tersebut sangat cepat dan sulit diduga. Kemudian telah dijelaskan pula bahwa komponen kondisi fisik yang menunjang terhadap kelincahan diantaranya power dan fleksibilitas, karena tinggi rendahnya kelincahan seseorang sangat dipengaruhi oleh beberapa factor sebagaimana penjelasan Dayton (1997) yang dikutip oleh Satriya dalam diktat penataran pelatih bulutangkis (2005) bahwa “kelincahan ditentukan oleh kelenturan, power, kecepatan, dan keseimbangan”.

Menurut pengamatan penulis, melihat dari beberapa pendapat para ahli dan dari karakteristik permainan bulutangkiss itu sendiri, bahwa untuk menampilkan kelincahan dalam permainan bulutangkis sangat dipengaruhi oleh power tungkai dan fleksibilitas sendi panggul. Karena dengan kemampuan untuk melakukan gerakan dalam ruang gerak sendi panggul yang luas serta didukung oleh power otot-otot tungkai, maka gerakan-gerakan dalam permainan bulutangkis seperti melangkah, menolak, meloncat, memukul shuttlecock dapat dilkakukan dengan cepat dana tepat tanpa pernah kehilangan keseimbangan tubuh (kelincahan).

Untuk itu yang mendasari dalam penelitian ini adalah sebagai beirkut:

a. Dalam permainan bulutangkis, komponen fisik kelincahan sangat dibuthkan oleh setiap atletnya guna pencapaian prestasi yang maksimal.

b. Untuk mendapatkan kelincahan yang baik, perlu adanya dukungan dari power dan flesibilitas, khususnya dalam pemainan bulutangkis adalah power tungkai dan fleskibilitas sendi panggul.

8. Hipotesis

Berdasarkan anggapan dasar, maka hipotesis yang penulis ajukan adalah sebagai berikut:

a. Terdapat kontribusi power tungkai terhadap kelincahan dalam permainan bulutangkis.

b. Terdapat kontribusi fleksibilitas sendi panggul terhadap kelincahan dalam permainan bulutangkis.

c. Terdapat kontribusi yang bersamaan antara power tungkai dan fleksibilitas sendi panggul terhadap kelincahan dalam permainan bulutangkis.

B. Prosedur Penelitian

1. Metode penelitian

Metode adalah suatu cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan, sedangkan tujuan dari penilitian adalah mengungkapkan, menggambarkan, dan menyimpulkan hasil pemecahan masalah melalui cara-cara tententu sesuai dengan prosedur penelitiannya. Hal ini dijelaskan oleh Sukardi (2003:4-5) bahwa:

Beberapa tujuan penelitian yang hendak dicapai dapat dilihat diantaranya termasuk pada keterangan di bawah ini:

a. Memperoleh informasi yang baru

b. Mengembangkan dan menjelaskan

c. Menerangkan, memprediksi, dan mengontrol suatu ubahan.

Dan beberapa macam metode yang biasa digunakan dalam suatu penlitian, diantaranya metode historis, deskriptif, ex post facto, dan eksperimen. Berkaitan dengan masalah kontribusi power tungkai dan fleksibilitas sendi panggul terhadap kelincahan dalam permainan bulutangkis, maka perlu ditentukan metode penelitian yang tepat untuk memecahkan masalah tersebut. Dalam hal ini adlaah metode deskriptif.

Mengenai metode deskriptif Sukardi (2003:157) mengatakan “Penelitian deskriptif merupakan metode penilitian yang berusaha menggambarkan dan menginterprestasikan objek sesuai apa adanya”. Lebih lanjut Sudjana dan Ibrahim (2001:64) mengatakan bahwa “Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang”.

Jadi dapat disimpulkan bahwa penelitian deskriptif hanyaa bertujuan atau berfungsi untuj menggambarkan gejala secaa sistematis fakta dan karakteristik objek atau subjek yang diteliti secara tepat.

Dalam menjelaskna metode ini penulis mengambil langkah-langka sebagai berikut:

a. Mengumpulkan data yang diperoleh melalui tes power tungkai, tes fleksibilitas sendi panggul, dan tes kelincahan dalam permainan bulutangkis.

b. Menyusun dan mengolah data.

c. Menganalisis data.

Agar penelitian ini menccpai tujuan yang diharapkan, diperlukan adanya data untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini. Adapun studi yang penulis gunakan dalam penelitian ini adlah studi korelasi. Yaitu studi yang mempelajari dua variable atau lebih, yakni sejauh mana variasi dalam satu variable berhubungan dengan variasi dalam variable lain, dalam penelitian ini adalah kontribusi power tunngkai dan fleksibilitas sendi panggul terhadap kelincahan dalam permainan bulutangkis.

2. Populasi dan sampel

Dalam penlitian untuk memperoleh pemecahan masalah diperlukan adanya data. Data tersebut diperoleh dari objek penelitian atau yang disebut populasi yang diselidiki. Tentang populasi dijelaskan oleh Sudjana (1089:6) bahwa “populasi adalah totalitas yang mungkin, hasil menghitung ataupun pengukuran kuantitas dari karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap dan yang jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya”. Dan menurut Arikunto (1998:115) menjelaskan sebagai berikut: “Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian”. Lebih lanjut menurut Sukardi (2003:53) bahwa: “Populasi pada prinsipnya adalah semua anggota kelompok manusia, binatang, peristiwa, atau benda yang tinggal bersama dalam satu tempat dan secara terencana menjadi target kesimpulan dari hasil akhir suatu penelitian”. Dari pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa populasi dalam penelitian merupakan kumpulan individu atau objek yang mempunyai sifat-sifat umum.

Sedangkan sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi, seperti yang dikemukakan oleh Sudjana dan Ibrahim (2001:85) bahwa: “Sampel adalah sebagian dari populasi yang terjangkau dan memiliki sifat yang sama dengan populasi”. Dan menurut Sukardi (2003:54) bahwa: “Sebagian dari jumlah populasi yang dipilih untuk sumber data tersebut disebut sampel atau cuplikan”.

Pengambilan sampel yang dilkaukan penulis dalam penelitian ini adalah dengan cara sampel tertuju atau purposive sampling. Hal ini dijelaskan oleh Arikunto (1998:127) bahwa: “sampel bertujuan dilakukan dengan cara didasarkan atas adanya tujuan tertentu”. Dan dalam penelitian ini penulis menggunakan sampel sebanyak 20 orang dari 20 orang populasi. Adapun populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah club Garuda Tangkas Kabupaten Indramayu.

Menurust Arikunto (2008:121) mengemukakan bahwa: “….kebanyakan peneliti beranggapan bahwa semakin banyak sampel atau semakin besar persentase sampel dari populasi maka hasil penelitian akan semakin baik”. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka teknik pemilihan sampel dalam penelitian ini melibatkan semua populasi. Sebenarnya tidak ada ketegasan menngenai jumlah sampel untuk mewakili populasi dalam suatu penelitian, seperti yang diungkapkan Sudjana dan Ibrahim (2001:96) bahwa: “Memang belum ada ukuran yang pasti berapa banyak sampel dari populasinya namun yang terpenting sampel harus mewakili sifat populasinya”.

3. Disain penelitian

Dalam suatu penelitian diperlukan desain penelitian yang cocol dengan metode yangd digunakan, agar dalam pelaksanaannya sesuai dengan yang diharapkan, dan juga sebagai pegangan dalam pelaksanaan penelitian, sehingga penelitian yang dilakukan arahnya jelas dan terencana. Sesuai yang dikemukakan oleh Subana dan Sudrajat (2005:50) bahwa: “Maksud desain penelitian adalah beupa gambaran atau rancangan prosedur penelitian yang boleh dianggap sebagai pola kerja peneliti dalam melakukan penelitian”.

Adapun dalam penelitian ini yang berjudul “Kontribusi Power Tungkai dan Fleksiblitas Sendi Panggul Terhadap Kelincahan dalam Permainan Bulutangkis” terdapat variable bebas dan terikat. Variable bebas adalah power tungkai (X1) dan fleksibilitas sendi panggul (X2). Sedangkan variable terikatnya adalah kelincahan dalam permainan bulutangkis (Y). setelah data diperoleh, langkah selanjutnya adalah mengolah dan menganalisis data tersebut, sehingga diperoleh hasil kontribusi dari kedua variable tersebut terhadap variable terikatnya.

Untuk lebih jelasnya penulis mengajukan desai penelitan sebagai berikut:

Keterangan

X1 : Power tungkai

X2 : Fleksibilitas sendi panggul

Y : kelincahan dalam permainan bulutangkis’

r1y : Koefisien X1 terhadap Y

r2y : Koefisien X2 terhadap Y

r1,2y : Koefisien X1 X2 terhadap Y

prosedur penelitian yang ditempuh untuk memecahkan masalah dalam penelitian tersebut dengan mengacu kepada desain penelitian di atas, dapat dilakukan denngand langkah-langkah sebagai berikut:

a. Menentukan populasi dan sampel

b. Melaksanakan pengukuran power tungkai, fleksibilitas sendi panggul, dan kelincahan dan permainan bulutangkis.

c. Mengolah data dari hasil pengukuran

d. Menganalisis data

e. Menetapkan kesimpulan

Adapun prosedur penelitian yang digunakan penulis berdasarkan desain penelitian.

4. Instrument penelitian

Untuk mengumpulkan data dari sampel penelitian diperlukan alat yang biasa disebut instrument. Adapun isntrumen yang digunakan dlam penelitian ini adalah:

a. Standing board jump test, untuk mengukur power tungkai

b. Lucky meter test, untuk mengukur fleksibilitas sendi panggul

c. Footwork test untuk mengukur kelincahan dalam permainan bulutangkis.

Secara rinci mengenai instrument yang akan digunakan dalam pengambilan data pada penelitian ini akan dijelaskan sebagai berikut:

a. Standing board jump test. Tujuannya untuk mengukur kemampuan power tungkai, yaitu dengan cara meloncat kedepan sejauh-jauhnya dengan tanpa awalan. Menurut Nurhasan (2000:130) tes ini mempunyai validitas sebesar 0,607 dan reliabilitas 0,963

b. Lucky meter test. Tujuannya untuk mengukur fleksibilitas sendi panggul. Tes ini dikemukakan oleh Lucky Affari (1999:40) dengan validitas tes 0,70 dan reliabilitas tes sebesar 0,88.

c. Footwork test. Yaitu delapan daerah sasaran pada lapangan permainan bulutangkis. Tujuannya untuk mengukur kelincahan dalam permainan bulutangkis. Tes ini dikemukakan oleh Tohar (1992:200-203) yang dimodifikasi oleh Rahmat (1994:53) tes ini mempunyai validitas sebesar 0,39 dan reliabilitas sebesar 0,71.

5. Prosedur pelaksanaan tes dan pengukuran

Tujuan dari prosedur pelaksanaan tes dan pengukuran ini untuk memudahkan testee dalam melaksanakan tes, sehingga pelaksanaan dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.

a. Standing broad jump test

1) Tujuan : mengukur power tungkai

2) Alat : alat tulis, papan tolakan, meteran

3) Pelaksanaan:

a) Testee berdiri pada papan tolak dengan lutut ditekuk sampai membentuk sudut kurang dari 45 derajat.

b) Kedua lengan lurus kebelakang

c) Kemudian tes menolak kedepan dengan kedua kaki sekuat-kuatnya dan mendarat dengan kedua kaki pula.

d) Testee diberi kesempatan melakukan tiga kalli percobaan.

4) Penilaian: jarak lompatan terbaik yang diukur mulai dari tepi dalam papan tolak sampai batas tumpuan kaki atau badan yang terdekat dengan papan tolak, dari tiga kali percobaan tersebut.

b. Lucky meter test

1) Tujuan : mengukur fleksibilitas sendi panggul

2) Alat : alat tulis, sabuk pengikat, tali penarrik beban, pipia ukuran

3) Pelaksanaan:

a) Testee berdiri di depan alat pengukur fleksibilitas sendi panggul dengan membuka kaki selebar bahu.

b) Panggul testee diika dengan sabuk yang sudah disambungkan dnegan tali penarik beban.

c) Testee memutar panggulnya kea rah kiri atau kanan tanpa merubah posisi kaki dan juga tidak mencoba untuk menconcongkan badan. Jadi yang bergerak hanya panggulnya saja secara beputar semaksimal mungkin.

4) Penilaian: Nilai dihitung brdasarkan ukuran yang terdapat pada pipa besi yang satuannya centimetes (o s.d 30 cm)

c. Footwork test

1) Tujuan : menngukur kelincahan dalam permainan bulutangkis

2) Alat : alat tulis, lapangan permainan bulutangkis

3) Pelaksanaan:

a) Testee berada di tengah lapangan atau kotak posisi siap

b) Pada aba-aba “ya” testee bergerak melangkahkan kaki ke depan dan tengah (kotak no 1) sehingga kaki kanan masuk dalam kotak dan tangan kanan menyentuh lantai di depan kaki kanan.

c) Slanjutnya mundur kembali ke kota tengah (posisi siap) kemudian langsung maju ke depan kiri (kotak nomor 2) sehingga kaki kanan masuk dalam kotak dan tangan kanan menyentuh lantai di depan kaki kanan.

d) Setelah itu mundur ke kotak tengah dan melangkah ke samping kanan (kotak nomor 3) dan kaki kanan masuk dalam kotak, tangan kanan menyentuh di depan kaki kanan.

e) Kembali ke kotak tengah, langkahkan kaki ke depan lurus (kotak nomor 4) kaki kanan masuk dalam kotak dan tangan kanan menyentuh lantai di depan kaki kanan.

f) Setelah itu mundur ke kotak tengah, langkahkan ke samping kiri (kotak nomor 5), tangan kanan menyentuh lantai di depan kaki kanan.

g) Kemudian kembali ke kotak tengah, mundur ke tengaha lurus (kotak nomor 6), lakkukan pukulan sehingga salah satu kaki masuk dalam kotak dan kembali ke kotak tengah.

h) Selanjutnya langkahkan kaki ke belakang kanan (kotak nomor 7), sehingga kaki kanan masuk dalam kotak dan tangan kanan menyentuh lantai di depan kaki kanan.

i) Kemudian kembali ke kotak tengah dilanjutkan dengan gerkan ke belakang kiri (kotak nomor 8) sehingga kaki kanan masuk dalam kotak dan tangan kanan menyentuh lantai di depan kaki kanan.

j) Setelah itu kembali ke posisi siap dengan kedua kaki masuk ke dalam kotak yang berada di tengah lapangan.

4) Penilaian: setiap testee melakukan dua kali percobaan. Pengukuran wkatu dilaukan pada saat aba-aba “ya” stopwatch mulai dijalankan dan hentikan pad saat kedua kaki testee berada dalam kotak tengah (posisi siap) diakhiri gerakan. Waktu yang diambil adalah waktu yang terbaik dalam satuan detik sampai seperatus detik.

6. Rancangan analisis data

Setelah data dari tes awal dan tes akhir terkumpul, lanakah selanjutnya adalah mengolaj dan menganalisis data tersebut secara statistic. Langkah-langkah pengolahan data tersebut, ditempuh dengan prosedur sebagai berikut:

a. Menghitung skor rata-rata dari setiap kelomok sampel, dengan menggunakan rumus dari Nurhasan et al (2002:22) sebagai berikut:

Keterangan:

: nilai rata-rata yang dicapai

: jumlah skor yang diperoleh

N : jumlah sampel

b. Menghitung simpangan baku dari hasil data mentah setiap variable, menurut Nurhasan et al (2002:36) rumusnya adalah:

Keterangan:

S : simpangan baku yang dicari

N : jumlah sampel

: jumlah kuadrat nilai data dikurangi rata-rata

c. Mencari T-skor, tujuannya untuk menyetarakan dari beberpa jenis skor yang berbeda satuan ukurannya, rumus yang digunakan menuut Nurhasan et al (2002:45) adalah:

atau

atau

d. Menguji normalitas dari tiap-tiap kelompok dengan menggunakan uji kenormalan lilliefors. Prosedur yang digunakan menurut Nurhasan et al (2002:105-106) adalah:

1) Pengamatan X1, X2,….. Xn, dijadikan bilangan baku Z1, Z2,… Zn, dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

Z : bilangan baku ke-i

Xi : data hsil obeservasi ke-i

: rata-rata kelompok sampel

S : simpangan baku kelompok sampel

2) Untuk setiap bilanan baku ini digunakan daftar disstribusi normal baku, kemudian dihitung peluang F(Zi) = P (Z – Zi).

3) Selanjutnya dihitung proporsi Z1, Z2,… Zn, jika proposi ini dinyatakan S(Zi), maka:

4) Menghitung selisih F(Zi) - S (Zi) kemudian tentukan harga mutlaknya.

5) Ambil harga mutalk yang paling besar diantara harga-harga mutlak selisi tersebut. Untuk menolak atau menerima hipotesis, kita bandingkan Lo dengan nilai kritis L yang diambil dari daftar untuk taraf nyata a = 0,05 yang dipilih. Kriterianya adalah:

a) Hipotesis diterima apabila Lo <>

b) Hipotesis ditolak apabila Lo > Lt, kesimpulannya data berdistribusi tidak normal.

e. Mengitung koefisien korelasi tunggal, menurut Nurhasan (2000:29) dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

Rxy = korelasi yang dicari

N = jumlah sampel

= jumlah X

= jumlah Y

= jumlah x dikali Y

= jumlah x2

= jumlah Y2

f. Menghitung signifikansi koefisien korelasi. Penghitungan ini dilakukan untuk menerima atau menolak hipotesisi. Menurut Nurhasan et al (2002:163) rumus yang digunakan adalah:

Keterangan:

t : Nilai hitung yang dicari

r : koefisien korelasi variable

n = Jumlah sampel

g. Menghitung koefisien korelasi ganda (multiple), prosedur yang diguanakn menurut Nurhasan et al (2002:61) dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

ry12 = koefisiean korelasi yang dicari

ry1 = koefisien korelasi antara y dan x1

ry2 = koefisien korelasi antara y dan x2

r12 = koefisien koralasi antara x1 dan x2

h. Menguji keberartian korelasi berganda, rumus yang digunakan menurut Nurhasan et al (2002:166)

Keterangan:

F = F hitung yang dicari

R = koefisien korelasi berganda

k = jumlah variable bebas

n = jumlah sampel

7. Hipotesis statistika

Sesuai dengan masalah penelitian, maka hipotesis stastistik yang dirumuskan dalam masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. X1Y = Ho :

Hi :

b. X2Y = Ho :

Hi :

c. X1X2Y = Ho :

Hi :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar