Jumat, 15 Oktober 2010

PERBANDINGAN PENGARUH LATIHAN RENANG ANTARA JARAK 25 METER DAN 50 METER TERHADAP KECEPATAN RENANG GAYA BEBAS 100 METER DI KELAS VIII SMPN 2 INDRAMAYU



POPOSAL
PERBANDINGAN PENGARUH LATIHAN RENANG ANTARA JARAK 25 METER DAN 50 METER TERHADAP KECEPATAN RENANG
GAYA BEBAS 100 METER DI KELAS VIII
SMPN 2 INDRAMAYU

Latar Belakang Masalah
Pendekatan ilmiah sangat diperlukan dalam masa pembaharuan dan pembangunan sekarang ini untuk memecahkan berbagai masalah dalam berbagai bidang, termasuk bidang keolahragaan. Olahraga sebagai bidang lintas sektoral dapat memanfaatkan berbagai ilmu pengetahuan, antara lain anatomi, fisiologi, biologi, kinesiologi, body mekanik, sports medicine, ilmu pendidikan, ilmu keselatihan, dan psikologi. Oleh karena itu disamping memperhatikan faktor-faktor yang ditemukan oleh setiap cabang ilmu pengetahuan membantu peningkatan prestasi olahraga. Maka tidak kalah pentingnya pula pengalaman-pengalaman praktis di lapangan hendaknya dikombinasikan dalam pembinaan olahraga.
Olahraga mempunyai banyak fungsi, yaitu untuk latihan, alat pendidikan, mata pencaharian, media kebudayaan, bahan tontonan, sarana pembinaan kesehatan, diplomasi dan tidak kalah pentingnya sebagai kebanggaan suatu negara atau bangsa. Sasaran utamanya adalah manusia secara keseluruhan, baik dalam segi jasmani maupun rohani. Subyek atau obyek olahraga adalah manusia dengan kemampuan fisik dan psikisnya untuk bereaksi. Dengan demikian maka untuk mendapatkan prestasi yang tinggi, seseorang perlu dilatih kemampuan fisik dan psikisnya.
Kemampuan fisik yang dimaksud di sini adalah komponen-komponen fisik yang dapat mendukung prestasi atlet, di antaranya kecepatan. Kecepatan merupakan salah satu komponen fisik yang sama pentingnya dengan komponen-komponen fisik yang lainnya. Hampir semua cabang olahraga baik perorangan maupun beregu harus memiliki kemampuan tersebut. Apalagi untuk pencapaian prestasi salah satunya ditentukan oleh kecepatan, oleh karena itu upaya yang diterapkan untuk menunjang prestasi, latihan kecepatan merupakan salah satu prioritas untuk mendapat perhatian khusus disamping latihan komponen fisik lainnya.
Mengenai kecepatan, Harsono (1998 : 216) menjelaskan bahwa : “Kecepatan bukan berarti menggerakkan seluruh tubuh dengan cepat, akan tetapi dapat pula terbatas pada menggerakkan anggota-anggota tubuh dalam waktu yang sesingkat-singkatnya”. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan, seperti yang dikemukakan oleh Wilmore yang dikutip oleh Harsono (1998 : 216) bahwa : “Kecepatan tergantung dari beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu strength, waktu reaksi (reaction time), dan fleksibilitas”. Jadi kalau berlatih untuk mengembangkan kecepatan, atlet harus pula dilatih kekuatan, fleksibilitas dan kecepatan reaksinya serta tidak semata-mata berlatih kecepatan saja.
Dalam banyak cabang olahraga, kecepatan merupakan faktor penentu, seperti nomor-nomor sprint, tinju, anggar, beberapa cabang olahraga permainan, nomor-nomor renang jarak pendek dan sebagainya. Banyak faktor yang turut menentukan kecepatan, seperti yang dikemukakan oleh A. Hamidsyah Noer (1995 : 158) sebagai berikut :
Usia, bakat dan jenis kelamin.
Macam fibril otot berdasarkan pembawaan sejak lahir.
Pengaturan system dan koordinasi yang baik.
Kekuatan otot
Sifat elastisitas dan rilek otot.

Dari kutipan di atas, penulis menyimpulkan bahwa faktor-faktor tersebut adalah faktor dari dalam dan faktor dari luar. Faktor dari dalam terdiri dari bakat dan macam fibril otot, sedangkan faktor dari luar terdiri dari pengaturan sistem dan koordinasi, kekuatan otot, dan sifat elastisitas otot. Walaupun seseorang memiliki bakat dan fibril otot putih yang banyak, bukan berarti tanpa melalui latihan akan dapat mencapai ketepatan yang tinggi. Jadi faktor dari luar pun turut mempengaruhinya, seperti latihan kekuatan otot, latihan daya tahan otot, latihan daya tahan pernapasan, latihan kelentukan, dan masih banyak lagi latihan lainnya. Dengan demikian latihan merupakan faktor penentu untuk peningkatan kecepatan.
Ada beberapa metode latihan untuk meningkatkan kecepatan, antara lain interval Training, yaitu latihan yang selalu diselingi istirahat, seperti yang dikemukakan oleh Harsono (1998 : 156) sebagai berikut : “Interval Training adalah suatu sistem latihan yang diselingi oleh interval-interval yang berupa masa-masa istirahat”. Selanjutnya dijelaskan pula oleh Harsono (1998 : 157) bahwa : “Bentuk latihan dalam interval Training dapat berupa lari (interval running) atau renang (interval Swimming)”.

Batasan Masalah
Renang interval dengan jarak lebih dekat
Renang interval dengan jarak lebih jauh.
Yang dimaksud dengan renang interval dengan jarak lebih dekat adalah jarak 25 meter untuk satu repetisi (satu kali pengulangan), sedangkan renang interval dengan jarak lebih jauh adalah jarak 50 meter untuk satu repetisi (satu kali pengulangan).
Perlu diketahui pula bahwa jumlah repetisi untuk jarak 25 meter adalah 10 repetisi, artinya 10 kali pengulangan untuk jarak 25 meter. Sedangkan jumlah repetisi untuk jarak 50 meter adalah 5 repetisi, artinya 5 kali pengulangan untuk jarak 50 meter. Oleh karena itu dalam penelitian ini penulis membatasinya yaituPengaruh latihan renang interval jarak 25 meter x 10 repetisi dengan renang interval jarak 50 meter x 5 repetisi terhadap peningkatan kecepatan renang gaya bebas 100 meter pada siswa putra di SMP Negeri 2 Indramayu.

Rumusan Masalah
Atas dasar uraian latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
Seberapa besar pengaruh latihan renang interval jarak 25 meter x 10 repetisi terhadap peningkatan kecepatan renang gaya bebas 100 meter pada siswa putra di SMP Negeri 2 Indramayu.
Seberapa besar pengaruh latihan renang interval jarak 50 meter x 5 repetisi terhadap peningkatan kecepatan renang gaya bebas 100 meter pada siswa putra di SMP Negeri 2 Indramayu.
Manakah yang lebih besar pengaruhnya antara latihan renang interval jarak 25 meter x 10 repetisi dengan latihan renang interval jarak 50 meter x 5 repetisi terhadap peningkatan kecepatan renang gaya bebas 100 meter pada siswa putra di SMP Negeri 2 Indramayu.

Manfaat Penelitian
Setelah penelitian ini selesai dilaksanakan dan diketahui mana dari kedua macam latihan tersebut yang paling besar pengaruhnya terhadap kecepatan renang gaya bebas. Maka ini dapat memberikan sumbangan wawasan bagi guru pendidikan jasmani, pembina dan pelatih olahraga renang di dalam mempertahankan bahkan meningkatkan kecepatan renang gaya bebas para siswa atau atletnya. Di samping itu, hasil penelitian ini merupakan pengetahuan bagi siswa atau atlet, sehingga dapat menambah motivasi dalam berlatih renang gaya bebas untuk meraih prestasi yang maksimal.

Anggapan Dasar dan Hipotesis
Anggapan Dasar
Anggapan dasar adalah suatu anggapan dari peneliti yang mendasari penelitiannya. Hal itu dijelaskan oleh Surakhmad yang dikutip Arikunto (1998 : 97) bahwa : “Anggapan Dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik”. Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi renang baik itu faktor fisik maupun faktor psikis. Faktor fisik terdiri dari banyak komponen, antara lain: daya tahan, kekuatan, kelentukan, kecepatan, daya ledak dan kelincahan.


Dalam penelitian ini penulis menitikberatkan kepada komponen kecepatan saja. Perlu diketahui bahwa banyak faktor yang mempengaruhi kecepatan, seperti yang dikemukakan oleh Harsono (1998 : 218) sebagai berikut :
Keturunan (heredity)
Waktu reaksi
Kemampuan untuk mengatasi tahanan (resistance) eksternal, peralatan, lingkungan (air, salju, angin dan sebagainya) dan lawan
Teknik, misalnya gerakan lengan, tungkai, sikap tubuh waktu lari dan sebagainya
Konsentrasi dan semangat
Elastisitas otot, terutama otot i pergelangan kaki dan panggul.

Dari kutipan di atas yang paling dominan dalam renang adalah harus bisa mengatasi tahanan air dan hambatan-hambatan lain. Oleh karena itu untuk mengatasi hal tersebut, yaitu dengan latihan. Banyak sistem dan bentuk latihan khusus untuk olahraga renang, diantaranya latihan renang interval. Dalam hal ini penulis mengambil satu bentuk latihan tetapi jaraknya berbeda. Bentuk latihan yang pertama adalah renang interval jarak 25 meter x 10 repetisi dan bentuk latihan yang kedua adalah renang interval jarak 50 meter x 5 repetisi, tetapi total jaraknya sama, hanya repetisi (pengulangan) yang berbeda.
Atas dasar perbedaannya, maka yang menjadi anggapan dasar dalam penelitian ini adalah latihan yang pengulangannya lebih banyak akan memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap peningkatan kecepatan, karena akan ada bahkan banyak perubahan-perubahan yang positif. Hal ini dijelaskan oleh Harsono (1998 : 102) sebagai berikut :

Dengan berlatih secara sistematis dan melalui pengulangan-pengulangan (repetitions) yang konstan, maka organisasi-organisasi mekanisme neurophysiologis kita akan menjadi bertambah baik, gerakan-gerakan yang semula sukar dilakukan lama-kelamaan akan merupakan gerakan-gerakan yang otomatis dan reflektif yang semakin kurang membutuhkan konsentrasi pusat-pusat syaraf daripada sebelum melakukan latihan-latihan tersebut.

Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap suatu permasalahan yang diteliti. Jadi jawabannya itu belum final. Tentang hipotesis, Surakhmad (1990 : 68) mengemukakah bahwa : “Hipotesis berasal dari kata Hypo yang berarti sesuatu yang masih kurang dari, dan thesis yang berarti sebuah kesimpulan pendapat”. Dengan kata lain hipotesis adalah sebuah kesimpulan, tetapi kesimpulan tersebut belum final, masih harus dibuktikan kebenarannya.
Hipotesis hendaklah membuat semakin jelas arah pengujian suatu masalah, seperti yang dikemukakan Nasution (1997 : 62) sebagai berikut :
Hipotesis berfungsi untuk :
Menguji kebenaran suatu teori,
Memberi ide untuk mengembangkan suatu teori,
Memperluas pengetahuan kita mengenai gejala-gejala yang akan kita pelajari.

Berdasarkan anggapan dasar di atas, maka yang menjadi hipotesis dalam penulisan skripsi ini adalahLatihan renang interval jarak 25 meter x 10 repetisi memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap peningkatan kecepatan renang 100 meter gaya bebas dibandingkan dengan latihan renang interval 50 meter x 5 repetisi”.

Penjelasan Istilah
Dalam penelitian ini penulis menganggap perlu untuk memberikan penjelasan tentang istilah-istilah yang dipergunakan dalam judul skripsi ini agar terhindar dari salah tafsir.
Pengaruh. Menurut poerwadarminta (1996 : 521) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalahDaya yang ada atau timbul dari sesuatu yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.”
Latihan. Menurut Harsono (1998 : 101), adalah “Proses yang sistematis dari berlatih atau bekerja, yang dilakukan berulang-ulang, dengan kian hari menambah jumlah beban latihan atau pekerjaannya.”
Renang interval. Menurut Harsono (1998 : 157) adalahSuatu bentuk latihan renang dengan jarak ditentukan, tempo ditentukan, repetisi ditentukan yang diselingi oleh interval-interval yang berupa masa-masa istirahat.”
Kecepatan. Menurut Harsono (1998 : 216) adalahKemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang sejenis secara berturut-turut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, atau kemampuan untuk menempuh jarak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.” Sedangkan kecepatan menurut Hidayat (1997:24) adalahPerbandingan antara jarak (panjangnya lintasan) dan lamanya gerak (waktu).”

KAJIAN TEORITIS
Teknik Renang Gaya Bebas
Gaya bebas atau dalam bahasa asingnya disebut crawl stroke, merupakan gaya tercepat diantara gaya yang lainnya (gaya dada, gaya punggung, gaya kupu-kupu), karena gaya bebas mempunyai hambatan yang minimum. Kahpi (1996 : 12) menjelaskan sebagai berikut :
...... hasil penelitian membuktikan bahwa gaya bebas adalah gaya yang paling kecil hambatannya, karena lebih mudah mengatasi tahanan air yang diterimanya. Tahanan itu dapat diatasi oleh pukulan kaki dan kayuhan lengan serta posisi badan yang hampir sejajar, tepatnya di bawah permukaan air.

Dalam melakukan renang gaya bebas, untuk menimbulkan dorongan dan memperkecil tahanan air diperlukan teknik renang yang baik. Daya dorong yang dimiliki perenang merupakan hasil dari kayuhan lengan dan cambukan kaki, sedangkan untuk memperkecil tahanan air (resistance) posisi tubuh perenang harus sejajar dengan permukaan air (streamline). Penguasaan teknik yang tinggi akan selalu diikuti oleh kecepatan renang yang tinggi pula seperti yang dijelaskan oleh Harsono (1998 : 100) sebagai berikut :


Kesempurnaan teknik-teknik dasar dari setiap gerakan adalah penting oleh karena akan menentukan gerak keseluruhan. Oleh karena itu gerak-gerak dasar dari setiap bentuk teknik yang diperlukan dalam setiap cabang olahraga haruslah dilatih dan dikuasai secara sempurna.

Tentang teknik dasar renang gaya bebas dijelaskan oleh Counsilman yang disadur Karnadi (1996 : 16) yaitu terdiri dari : “1. Posisi tubuh (body position), 2. Cambukan kaki (flutter kick), 3. Kayuhan lengan (arm stroke), 4. Pernapasan (breathing), dan 5. Koordinasi gerakan (coordination).”
Posisi Tubuh
Posisi tubuh harus hampir sejajar dengan permukaan air (streamline).
Tubuh harus berputar pada garis pusat atau pada rotasinya.
Hindarkan kemungkinan terjadinya gerakan-gerakan tangan atau kaki yang berakibat tubuh menjadi naik turun atau meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan.
Cambukan Kaki
Gerakan yang paling pokok adalah gerakan naik turun, seperti yang dikemukakan Karnadi (1996 : 19) sebagai berikut :
Cambukan kaki dalam garis vertikal mempunyai kedalaman 30 – 35 cm. Bila cambukannya terlampau dalam, akan menyebabkan hambatan. Cambukan kaki yang naik ke atas permukaan air tidak menghasilkan dorongan, malah mempergunakan pemborosan energi.

Gerak kaki pada gaya bebas saat melakukan gerak terdiri atas lecutan ke bawah (downbeat), dan lecutan ke atas (upbeat). Hal tersebut dijelaskan oleh Dadeng Kurnia (2003 : 40) sebagai berikut :
Lecutan kaki ke bawah adalah gerakan mencambuk yang dimulai dengan dilecutkannya pangkal paha, lutut dibengkokkan sedikit, dan cambukan dilakukan oleh punggung kaki.
Lecutan kaki di atas sebenarnya bagian akhir dari lecutan
kaki ke bawah. Kedalaman paha dari atas permukaan air ketika melakukan cambukan dan lecutan sekitar 30 – 35 cm.
Kayuhan Lengan
Fase-fase pada kayuhan lengan adalah :
Fase masuk permukaan air (entry phase)
Fase menangkap (catch phase)
Fase menarik (pull phase)
Fase mendorong (push phase)
Fase istirahat (recovery phase)
Pernapasan (Breathing)
Mengambil nafas pada saat berenang gaya bebas boleh dilakukan ke kiri atau ke kanan saja.
Koordinasi
Pada dasarnya koordinasi adalah rangkaian keseluruhan teknik dipadukan dan menjadi suatu bentuk gaya renang tertentu, dalam hal ini adalah renang gaya bebas.
Kecepatan Renang Gaya Bebas
Setelah koordinasi teknik dapat dikuasai dengan baik selanjutnya bagaimana cara meningkatkan kecepatannya, karena prestasi perenang diukur dari kecepatan dalam menempuh suatu jarak tertentu. Oleh karena itu dalam pembahasan selanjutnya, penulis kemukakan faktor-faktor yang memungkinkan dapat meningkatkan kecepatan.

Tinjauan Tentang latihan
Banyak atlet berlatih tetapi sebenarnya mereka tidak berlatih. Hal ini mungkin disebabkan karena mereka kurang memahami makna latihan yang sebenarnya. Untuk itu perlu kiranya dikemukakan tentang latihan. Latihan menurut Djide dalam Suhendro (1999 : 34) sebagai berikut :
Proses kerja yang dilakukan secara sistematis, kontinu dimana beban dan intensitas latihan makin hari makin bertambah, yang pada akhirnya memberikan rangsangan secara menyeluruh terhadap tubuh dan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan fisik dan mental secara bersama-sama.

Selanjutnya mengenai batasan latihan atau Training, dijelaskan oleh Harsono (1998 : 101), bahwa “Training adalah proses yang sistematis dari berlatih atau bekerja, yang dilakukan berulang-ulang, dengan kian hari kian menambah jumlah beban latihan atau pekerjaannya.” Penjelasan selanjutnya dikemukakan oleh Harsono (1998 : 101) sebagai berikut :
Yang dimaksud dengan sistematis adalah berencana, menurut jadwal, menurut pola dan sistem tertentu, metodis, dari mudah ke sukar, latihan yang teratur, dari sederhana ke yang lebih kompleks. Berulang-ulang maksudnya ialah agar gerakan-gerakan yang semula sukar dilakukan menjadi semakin mudah, otomatis dan reflektif pelaksanaannya sehingga semakin menghemat energi. Kian hari maksudnya ialah setiap kali, secara periodik, segera setelah tiba saatnya untuk ditambah bebannya, jadi bukan berarti harus setiap hari.

Dari kutipan di atas dapat penulis simpulkan bahwa atlet yang melakukan latihannya dengan benar, niscaya akan ada banyak perubahan-perubahan yang positif.
Latihan Kondisi Fisik
Akan ada peningkatan dalam kemampuan sistem sirkulasi dan kerja jantung.
Akan ada peningkatan dalam kekuatan, kelentukan, stamina, kecepatan, dan lain-lain komponen kondisi fisik.
Akan ada ekonomi gerak yang lebih baik pada waktu latihan.
Akan ada pemulihan yang lebih cepat dalam organ-organ tubuh setelah latihan.
Akan ada respons yang cepat dari organisme tubuh kita apabila sewaktu-waktu respons demikian diperlukan.
Selain daripada itu, kondisi fisik pun diperlukan sebagai dasar untuk mengambangkan gerakan-gerakan ketangkasan, seperti yang dikemukakan oleh Supandi dan Seba (1996 : 51) sebagai berikut :
Kemampuan fisik adalah karakteristik fungsional dari semua organ kekuatan. Apabila kemampuan tersebut dikembangkan pada seseorang, maka ia akan mempergunakan secara benar dan efisien dalam melakukan suatu gerakan. Oleh karena itu maka tingkat kemampuan fisik harus dikembangkan untuk perbuatan efisien.

Dari kedua pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa aspek fisik merupakan aspek paling penting, karena bila seorang atlet memiliki kondisi fisik yang baik, maka dapat membangkitkan reaksi-reaksi yang positif dalam organisme tubuhnya, dan akan dapat melakukan gerakan-gerakan dengan efisien.
Komponen-komponen Fisik
Di dalam latihan fisik harus mencakup berbagai komponen, seperti yang dikemukakan oleh Suhendro (1999 : 35) bahwaLatihan fisik harus mencakup semua komponen fisik, antara lain : kekuatan otot, daya tahan kardiovaskular, daya tahan otot, kelincahan, kecepatan, power, stamina, kelentukan, dan lain-lain.” Selanjutnya tentang komponen fisik menurut Harsono (1988 : 100), bahwaBeberapa komponen fisik yang perlu diperhatikan untuk dikembangkan adalah, daya tahan kardiovaskular, daya tahan kekuatan, kekuatan otot (strength), kelentukan (flexibility), kecepatan (speed), stamina, kelincahan (agility), power.”
Adapun komponen-komponen fisik yang mempengaruhi penampilan olahraga pada umumnya, menurut Nurhasan (1994 : 34) sebagai berikut :
Daya tahan (endurance), terdiri dari :
Daya tahan jantung, peredaran darah, dan pernafasan (cardiovascular respirator endurance).
Daya tahan otot (muscle endurance).
Kekuatan (strength)
Kelentukan (flexibility)
Kecepatan (speed)
Daya ledak (power)
Kelincahan (agility)
Semua komponen fisik tersebut sangat dibutuhkan oleh para atlet. Adapun yang menjadi prioritas dari komponen-komponen tersebut tergantung dari karakteristik cabang olahraga yang ditekuninya. Seperti halnya penulis dalam penelitian ini tetarik untuk meneliti sistem latihan yang mempengaruhi perkembangan kecepatan di dalam olahraga renang.

Tinjauan Tentang Interval Training
Mengenai interval Training, Harsono (1998 : 156) mengemukakah bahwa “Interval Training adalah suatu latihan yang diselingi oleh interval-interval yang berupa masa-masa istirahat.” Selanjutnya tentang bentuk sistem interval Training, dijelaskan oleh Harsono (1998 : 157) yaitu, “Bentuk latihan dalam interval Training dapat berupa lari (interval running) atau renang (interval Swimming).”
Dalam penelitian ini penulis mengambil bentuk latihan renang. Berdasarkan kutipan di atas, maka pelaksanaannya adalah renang – istirahat – renang – istirahat dan seterusnya. Ada beberapa faktor yang harus dipenuhi dalam interval Training, baik berupa lari maupun berupa renang, seperti yang dikemukakan oleh Harsono (1998 : 157), yaitu :
Lamanya latihan
Beban (intensitas) latihan
Ulangan (repetition) melakukan latihan
Masa istirahat (recovery interval) setelah setiap repetisi latihan.
Lamanya latihan dapat diterjemahkan dengan jarak lari atau renang yang harus ditempuh ; beban latihan dengan waktu (tempo, pace) untuk jarak tersebut ; ulangan latihan adalah berapa kali jarak tersebut harus dilakukan ; sedangkan yang dimaksud dengan masa istirahat adalah masa istirahat di antara setiap ulangan lari atau renang.

Dari kutipan di atas, penulis berpendapat bahwa sistem latihan interval Training dalam bentuk renang cocok untuk pengembangan kecepatan renang. Namun, dalam penelitian ini penulis membedakan keempat faktor di atas untuk kedua kelompok percobaan, yaitu untuk kelompok A, penulis menentukan faktor-faktor sebagai berikut :
Jarak renang 25 meter
Tempo / catatan waktu untuk jarak 25 meter adalah 80 – 90% dari kecepatan maksimal
Jumlah pengulangan 10 kali
Istirahat di antara pengulangan 3 – 4 menit
Sedangkan untuk kelompok B, penulis menentukan faktor-faktor sebagai berikut :
Jarak renang 50 meter
Tempo / catatan untuk jarak 50 meter adalah 80 – 90% dari kecepatan maksimal
Jumlah pengulangan 5 kali
Istirahat di antara pengulangan 7 – 8 menit

Tinjauan Tentang Kecepatan dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya
Kecepatan merupakan salah satu komponen fisik yang sama pentingnya dengan komponen-komponen fisik yang lainnya. Hampir semua cabang olahraga baik perorangan maupun beregu harus memiliki kemampuan tersebut. Dalam upaya pencapaian prestasi yang optimal salah satunya ditentukan oleh kecepatan, oleh karena itu upaya yang diterapkan untuk menunjang prestasi, latihan kecepatan merupakan salah satu prioritas untuk mendapat perhatian khusus disamping latihan komponen fisik lainnya.
Kecepatan menurut Lutan (2000 : 74) adalah “Kemampuan untuk berjalan, berlari, berenang atau bergerak dengan sangat cepat.” Sedangkan Harsono (1998 : 216) berpendapat bahwa “Kecepatan adalah kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang sejenis secara berturut-turut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, atau kemampuan untuk menempuh suatu jarak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.”
Dari beberapa cabang olahraga, kecepatan merupakan faktor penentu, seperti nomor-nomor sprint, tinju, anggar, beberapa cabang olahraga permainan, nomor-nomor renang jarak pendek dan sebagainya. Banyak faktor yang menentukan kecepatan seperti yang dikemukakan Harsono (1998 : 216) bahwa “Kecepatan tergantung dari beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu strength, waktu reaksi (reaction time), dan fleksibilitas.”

Sistem Latihan untuk Mengembangkan Komponen Kecepatan
Untuk mengembangkan kecepatan, diperlukan bekal kemampuan biomotorik dasar yang cukup baik. Secara umum komponen biomotorik dasar cabang-cabang olahraga tidaklah berbeda, yang kemudian tiap-tiap komponen itu akan selalu ada keterkaitan untuk membentuk suatu kondisi yang lebih berkualitas sesuai dengan tuntutan kebutuhannya. Adapun komponen-komponen biomotorik dikemukakan oleh Lutan (2000 : 62) adalah :
Kekuatan
Daya tahan
Kecepatan
Kelentukan
Koordinasi

Dari kutipan di atas, untuk mengembangkan kecepatan, bukanlah yang dilatih hanya komponen kecepatan saja, tetapi komponen lain pun perlu dilatih, sehingga akan mendukung terhadap komponen kecepatan. Hal tersebut sudah dibuktikan melalui suatu penelitian ahli-ahli riset dari Leningrad Physical Culture Research Institute yang dikutip Harsono (1988 : 216) sebagai berikut :
. . . . . mereka dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok A hanya diberi latihan-latihan untuk kecepatan saja. Sedangkan kelompok B diberi latihan-latihan kelentukan, kecepatan, daya tahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa :
Kelompok A kekuatannya berkembang 10% dan kecepatannya 15%.
Kelompok B kekuatannya berkembang 30%, kecepatannya 40%, dan staminanya 35%.
Jadi kesimpulannya ialah, kalau ingin memperkembang speed, janganlah hanya berlatih speed saja, akan tetapi berlatih pula komponen-kompoen lainnya, seperti kekuatan dan daya tahan.

Dari hasil penelitian di atas, dapat penulis uraikan, bahwa kecepatan dapat dicapai melalui latihan kekuatan otot. Latihan-latihan yang teratur akan berpengaruh kepada otot. Serabut-serabut otot akan menjadi bertambah besar. Bertambah besarnya serabut otot, maka otot akan bertambah kuat. Bila otot telah menjadi kuat, maka berarti akan menjamin kelangsungan gerakan yang sama dalam waktu yang singkat. Jadi dengan bertambahnya kekuatan berarti bertambah pula kecepatan. Demikian pula apabila sudah memiliki kekuatan otot, maka daya tahan otot pun sedikit demi sedikit akan terbentuk.
Tetapi perlu diketahui bahwa selain daya tahan otot, ada juga yang disebut daya tahan cardiovaskular respiratory, yaitu daya tahan jantung, dan peredaran darah serta pernafasan. Kalau kedua daya tahan tersebut dipadukan dengan kecepatan, maka akan terbentuk stamina.
Dengan mengacu kepada pendapat-pendapat di atas, maka penulis mengambil sistem latihan untuk pengembangan kecepatan yang juga akan melatih kompoenen-kompenen pendukungnya. Sistem latihan itu dinamakan interval Training, dengan bentuk latihannya berupa renang. Dengan demikian sistem itu disebut interval Swimming (renang interval). Alasan penulis mengambil sistem latihan renang interval, karena didasari bahwa :
Penelitian ini dilakukan terhadap cabang olahraga air, yaitu renang.
Sistem latihan renang interval, dapat secara bersama-sama meningkatkan komponen kecepatan, kekuatan otot, daya tahan otot atau stamina otot, daya tahan jantung dan pernafasan.
Dalam latihan renang interval ada beberapa faktor yang harus dipenuhi, seperti yang dikemukakan oleh Harsono (1998 : 157) sebagai berikut :
Lamanya latihan
Beban (intensitas) latihan
Ulangan (repetition) melakukan latihan
Masa istirahat (recovery interval) setelah setiap repetisi latihan.

Lamanya latihan dapat diterjemahkan dengan jarak lari atau renang yang harus ditempuh ; beban latihan dengan waktu (tempo, pace) untuk jarak tersebut ; ulangan latihan adalah berapa kali jarak tersebut harus dilakukan ; sedangkan yang dimaksud dengan masa istirahat adalah masa istirahat di antara setiap ulangan lari atau renang.
Dari kutipan di atas, penulis berpendapat bahwa sistem latihan renang interval tidak boleh mengabaikan prinsip-prinsip latihan. Oleh karena itu untuk keberhasilan latihan, maka prinsip-prinsip latihan pun harus dikuasai, dipahami dan dimengerti oleh pelatih dan para atletnya. seperti dikemukakan oleh Harsono (1998 : 102), bahwa “Prinsip-prinsip latihan haruslah diketahui dan benar-benar dimengerti oleh pelatih maupun atlet.”
Tentang prinsip latihan dikemukakan oleh Harsono yang dikutip Suhendro (1999 : 36) terdiri dari : “(1) beban lebih, (2) perkembangan menyeluruh, (3) spesialisasi, (4) individualisasi, (5) intensitas latihan, (6) kualitas latihan, (7) variasi latihan, (8) lama latihan, dan (9) latihan relaksasi.

Prinsip Beban Lebih
Prinsip beban lebih atau dengan kata lain overload principle dapat diterapkan pada semua aspek latihan. Atlet berlatih dari hari ke hari harus disertai dengan penambahan beban latihannya. Harsono (1998 : 103) menjelaskan sebagai berikut :
Dalam olahraga, agar prestasi dapat meningkat, atlet harus selalu berusaha untuk berlatih dengan beban kerja yang lebih berat daripada yang mampu dilakukannya saat itu atau dengan perkataan lain, dia harus senantiasa berusaha untuk berlatih dengan beban kerja yang ada di atas ambang rangsang kepekaannya (threshold of sensitivity),. Kalau beban latihan terlalu ringan dan tidak ditambah (tidak diberi overload), maka berapa lama pun kita berlatih, betapa sering pun kita berlatih, atau sampai bagaimana capek pun kita mengulang-ngulang latihan tersebut, peningkatan prestasi tidak akan mungkin.

Intensitas Latihan
Intensitas latihan dapat menjadi penentu keberhasilan latihan. Pada intensitas latihan ini menyatakan beratnya latihan dan merupakan faktor utama yang mempengaruhi efek latihan terhadap faal tubuh. Hal yang harus diperhatikan adalah bila makin berat latihan dalam batas-batas tertentu, maka akan semakin baik efek yang diperoleh.
Denyut nadi merupakan indikator untuk melihat intensitas latihan. Adapun cara-cara untuk mengukur denyut nadi menurut teori Katch dan MC. Ardle dalam Harsono (1998 : 116) sebagai berikut :
Denyut nadi maksimal (DNM) dengan menggunakan rumus : 220 – umur (dalam tahun).
Takaran intensitas latihan :
Untuk olahraga prestasi, antara 80 – 90% DNM
Untuk olahraga kesehahtan, antara 70 – 85% DNM
Masih ada hal yang perlu lamanya latihan dalam Training zone :
Untuk olahraga prestasi, 45 – 120 menit
Untuk olahraga kesehatan, 20 – 30 menit.

METODOLOGI PENELITIAN
Metode Penelitian
Alasan lain penulis menggunakan metode penelitian eksperimen adalah karena masalah yang dihadapi adalah untuk mengungkapkan faktor-faktor sebab akibat, seperti yang dijelaskan oleh Bahar (1993 : 43) sebagai berikut :
Metode eksperimen, penelitian ini bermaksud mencari suatu keterangan dari suatu gejala sehingga penelitian mempunyai sifat mengungkapkan faktor-faktor sebab akibat merupakan perbandingan keadaan sebelum dan sesudah dilakukan percobaan.
Pendapat tersebut di atas telah cukup jelas menggambarkan tentang arti dan metode eksperimen. Selanjutnya mengenai pengertian dan tujuan metode eksperimen dikemukakan Surakhmad (1993 : 149) sebagai berikut :
Dalam arti kata yang luas, bereksperimen adalah mengadakan kegiatan percobaan untuk melihat suatu hasil. Hasil itu untuk menegaskan bagaimana kedudukan perhubungan kausal antara variabel-variabel yang diselidiki. Tujuan eksperimen bukanlah pada pengumpulan data dan deskripsi data melainkan pada penemuan-penemuan faktor-faktor akibat, karena itu di dalam eksperimen orang itu bertemu dengan dinamik dalam interaksi variabel-variabel.

Ini adalah memisahkan antara kelompok A dan kelompok B, dimana kedua kelompok dikenai perlakuan pengukuran yang sama sebelum dikenai perlakuan percobaan dalam jangka waktu yang sama dengan materi yang berbeda.
Dengan mengacu kepada pendapat-pendapat tersebut di atas serta uraiannya, penulis di dalam penelitian ini membagi dua kelompok yaitu kelompok A sebagai kelompok percobaan dan kelompok B sebagai kelompok kontrol, sedangkan variabel eksperimennya yaitu :
Latihan renang interval jarak 25 meter untuk kelompok A (kelompok percobaan).
Latihan renang interval jarak 50 meter untuk kelompok B (kelompok kontrol).
Dengan pemberian latihan yang berbeda pada kedua kelompok tersebut akan terlihat adanya kelompok kontrol sebagai pembanding agar diperoleh manakah yang terjadi perubahan yang berarti akibat dari variabel eksperimen.

Populasi dan Sampel
Populasi merupakan objek penelitian yang sangat penting, karena tanpa objek yang akan diteliti otomatis tidak akan mendapatkan data atau informasi yang diperlukan untuk menguji hipotesis, sebagaimana dikemukakan oleh Sujana (1996 : 6) bahwa :
Populasi itu adalah totalitas semua nilai yang mungkin, hal menghitung atau pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya.

Sedangkan yang dimaksud sampel menurut Surakhmad (1994 : 93) adalah “Penarikan sebagian populasi untuk mewakili dari seluruh populasi.” Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian populasi, dengan alasan penulis ingin meneliti semua siswa putra yang merupakan elemen populasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Suharsimi Arikunto (1996 : 115) yaitu “Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Studi atau penelitiannya juga disebut studi populasi.
Yang dijadikan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa putra di SMP Negeri 2 Indramayu, yang mengikuti kegiatan ekstra kurikuler renang, berjumlah 30 orang.
TABEL 3.1
JUMLAH SISWA YANG DIJADIKAN SAMPEL
No Kelas Jumlah Siswa Putra Total Sampel
1 VIII A 12 orang 12 orang
2 VIII B 18 orang 18 orang
Jumlah 30 orang 30 orang

Masa Eksperimen
Sesuai dengan metode eksperimen, bahwa subjek yang akan diteliti dibagi dua kelompok, yaitu :
Kelompok A latihan renang interval jarak 25 meter (25 m x 10 repetisi) sebagai kelompok percobaan.
Kelompok B latihan renang interval jarak 50 meter (50 m x 5 repetisi) sebagai kelompok kontrol.
Dalam pelaksanaan latihan untuk kedua kelompok tersebut dilaksanakan pada hari yang sama, namun jam pelaksanaannya berbeda, yaitu :
Untuk kelompok A pukul 14.30 s.d pukul 15.45
Untuk kelompok B pukul 16.00 s.d pukul 17.15
Dengan latihan yang berulang-ulang dilakukan, yaitu tiga kali dalam satu Minggu disertai dengan takaran latihan yang meningkat, diharapkan adanya perubahan-perubahan pada satu bahkan lebih komponen fisik. Tentang latihan yang berulang-ulang dijelaskan oleh Harsono (1998 : 154) sebagai berikut :

Melalui latihan yang berulang-ulang dilakukan, yang sedikit demi sedikit ditambah dalam intensitas dan kompleksitasnya, atlet lama-kelamaan akan berubah menjadi orang yang lebih lincah, lebih tegas, lebih kuat, lebih terampil dan dengan sendirinya lebih efektif.

Sistematika Program Latihan
Latihan bagi kedua kelompok sampel dilaksanakan setiap hari selasa, kamis dan sabtu. Sedangkan sistematika program latihan adalah sebagai berikut :
Latihan pendahuluan
Latihan inti
Latihan penenangan
Program latihan untuk kedua kelompok sampel penulis uraikan sebagai berikut :
Latihan Pendahuluan
Di dalam latihan pendahuluan, latihan pokoknya adalah pemanasan (warming up), dengan tujuan untuk meningkatkan suhu tubuh agar dapat bergerak dengan baik dan untuk menghindari cedera otot. Hal ini dikemukakan oleh Giriwijoyo (1992 : 43) bahwa :
Tujuan dari periode warming up pada dasarnya untuk meningkatkan suhu tubuh dan untuk meningkatkan elastisitas satuan otot dan tendon, dan elastisitas ligamen agar tubuh dapat bekerja dengan baik, lebih produktif dan aman.

Latihan Inti
Latihan Inti Untuk Kelompok Latihan Renang Interval jarak 25 Meter
Pada latihan inti ini setiap sampel menempuh jarak dan repetisi yang sama, tetapi untuk tempo dan intervalnya berbeda atau mungkin sama tergantung dari kondisi sampel. Untuk lebih jelasnya latihan inti kelompok A adalah sebagai berikut :
Jarak satu repetisi adalah 25 meter
Waktu (tempo, pace) adalah 80% - 90%. Adapun tempo renang untuk latihan ini pembagiannya sebagai berikut :
Minggu ke 1 temponya 80% artinya kecepatan maksimal ditambah 20% dari kecepatan maksimal
Minggu ke 2 temponya 80% artinya kecepatan maksimal ditambah 20% dari kecepatan maksimal
Minggu ke 3 temponya 85% artinya kecepatan maksimal ditambah 15% dari kecepatan maksimal
Minggu ke 4 temponya 90% artinya kecepatan maksimal ditambah 10% dari kecepatan maksimal.
Lamanya istirahat sekitar 3 – 4 menit
Jumlah repetisi adalah 10 repetisi





Gambar 3.1
Lintasan Renang untuk Latihan Renang Interval 25 Meter
Latihan Inti Untuk Kelompok Latihan Renang Interval Jarak 50 Meter
Pada latihan inti ini setiap sampel menempuh jarak dan repetisi yang sama, tetapi untuk tempo dan intervalnya berbeda atau mungkin sama tergantung dari kondisi sampel. Untuk lebih jelasnya latihan inti kelompok A adalah sebagai berikut :
Jarak satu repetisi adalah 50 meter
Waktu (tempo, pace) adalah 80% - 90%. Adapun tempo renang untuk latihan ini pembagiannya sebagai berikut :
Minggu ke 1 temponya 80% artinya kecepatan maksimal ditambah 20% dari kecepatan maksimal
Minggu ke 2 temponya 80% artinya kecepatan maksimal ditambah 20% dari kecepatan maksimal
Minggu ke 3 temponya 85% artinya kecepatan maksimal ditambah 15% dari kecepatan maksimal
Minggu ke 4 temponya 90% artinya kecepatan maksimal ditambah 10% dari kecepatan maksimal.
Lamanya istirahat sekitar 7 – 8 menit.
Jumlah repetisi adalah 5 repetisi. Jadi untuk satu repetisi sampel menempuh dua kali putaran lintasan renang.









Gambar 3.2
Lintasan Renang untuk Latihan Renang Interval 50 Meter
Latihan Penenangan
Penenangan atau warming down juga tidak kalah pentingnya dengan warming up. Setelah sampel melakukan aktivitas yang berat pada latihan inti, fisik dan psikis mereka harus dikembalikan pada keadaan tenang dengan cara diberikan koreksi dan motivasi serta pujian yang tidak berlebihan bagi mereka yang ada peningkatan kemampuannya.
Mengenai tujuan warming down menurut Noer (1995 : 336) adalah “Untuk menurunkan temperatur atau suhu tubuh setelah melakukan suatu latihan berat dan juga bertujuan untuk mengurangi ketegangan dan konsentrasi yang timbul selama latihan berlangsung.”

Desain Penelitian
Untuk memperjelas langkah-langkah dalam melaksanakan penelitian ini, penulis membuat desain penelitian dan menentukan kegiatan penelitian sebagai berikut :
Menentukan sampel dari suatu populasi.
Memberikan tes awal renang gaya bebas 100 meter.
Menggolongkan menjadi dua kelompok dengan cara ranking. Sampel yang menduduki ranking ganjil masuk ke dalam kelompok A, dan sampel yang menduduki ranking genap masuk ke dalam kelompok B.
Memberikan perlakuan kepada kedua kelompok dengan perlakuan yang berbeda, yaitu :
Kelompok A diberi latihan renang interval jarak 25 meter (25 m x 10 repetisi).
Kelompok B diberi latihan renang interval jarak 50 meter (50 m x 5 repetisi).
Memberikan tes akhir kepada kedua kelompok dengan jenis tes yang sama, yaitu renang gaya bebas 100 meter
Menghitung tes awal dan tes akhir masing-masing kelompok.
Membandingkan perbedaan-perbedaan hasil tes awal dan tes akhir masing-masing kelompok.
Langkah terakhir pengujian statistik untuk menentukan apakah perbedaan kedua kelompok itu signifikan untuk menguji hipotesis yang diajukan, apakah diterima atau tidak.

Instrumen Penelitiian
Mempersiapkan fasilitas dan alat yang digunakan, yaitu :
Kolam renang yang memiliki panjang 25 meter, dan lebar 12,5 meter. Dengan demikian kolam tersebut terdiri dari 5 lintasan.
Peluit sebanyak 1 buah
Stopwatch sebanyak 10 buah
Formulir perorangan sebanyak 30 lembar
Ballpoint sebanyak 5 buah untuk alat tulis
Petugas tes, terdiri dari :
Starter atau pemberi aba-aba start sebanyak 1 orang
Pencatat waktu atau timer sebanyak 5 orang
Pencatat hasil sebanyak 5 orang
Pembantu umum sebanyak 3 orang
Pelaksanaan tes
Peserta dibagi menjadi enam seri, tiga seri dari kelompok A, dan tiga seri dari kelompok B yang masing-masing jumlahnya 5 orang untuk setiap seri.
Pelaksanaannya, kelompok A terlebih dahulu, setelah itu baru kelompok B. Adapun pada pelaksanaannya tiap seri terdiri dari lima orang sampel.
Pada aba-aba “bersedia” testee naik ke atas blok start
Pada aba-aba “siap”, testee mengambil posisi untuk start
Pada aba-aba “bunyi peluit” testee mulai terjun ke air untuk menempuh jarak 100 meter dengan gaya bebas, yaitu testee harus berenang sebanyak empat kali 25 meter
Waktu / stopwatch dihidupkan bersamaan dengan bunyi peluit start
Apabila testee menyentuh dinding finish, maka secara bersamaan stopwatch dimatikan. Catatan waktu tersebut adalah merupakan hasil kecepatan renang gaya bebas 100 meter.

Prosedur Pengolahan Data
Setelah data diperoleh melalui tes renang gaya bebas 100 meter, langkah selanjutnya adalah menyusun, mengolah, dan menganalisis data dengan menggunakan rumus-rumus statistik yang dikemukakan oleh Sudjana (1996 : 147). Pengolahan data hasil perhitungan melalui analisis statistik akan diperoleh jawaban mengenai diterima atau ditolaknya hipotesis sesuai dengan taraf nyata yang diajukan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan rumus-rumus statistik sebagai berikut :
Menguji Normalitas Distribusi Melalui Liliefors Dari Masing-Masing Kelompok
Uji normalitas ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran skor yang diperoleh siswa. Pendekatan statistik yang penulis gunakan adalah rumus Liliefors dengan langkah-langkahnya sebagai berikut :
Menyusun sampel dari sampel nilai data skor terendah sampai nilai data skor tertinggi.
Mencari nilai rata-rata dengan rumus :
X ̅=(∑▒X_i )/n
Keterangan : X ̅ = skor rata-rata yang dicari
Xi = jumlah skor
n = jumlah sampel
Mencari standar deviasi menggunakan rumus :
S=√((∑▒(X_i-X ̅ )^2 )/(n-1))
Keterangan :
S = Simpangan baku yang dicari
Xi = skor X ke-i
X ̅ = rata-rata skor
n = jumlah sampel
Mencari nilai Z dengan rumus :
Z=(X_i-X ̅)/S
Keterangan :
Xi = skor yang diperoleh siswa
X ̅ = nilai rata-rata kelompok
S = simpangan baku
Mencari F (Zi), dengan rumus :
Kalau (Zi) nya negatif, maka 0,5 – Z tabel
Kalau (Zi) nya positif, maka 0,5 + Z tabel
Menghitung proporsi, dengan rumus :
S (Zi) = (kedudukan urutan)/N
Mencari selisih harga mutlak, dengan rumus :
F (Zi) – S (Zi)
Menentukan harga mutlak yang paling besar (Lo), datanya diperoleh dari hasil selisih harga mutlak.
Mengembangkan (Lo) dengan tabel Liliefors dalam taraf nyata 0,01.
Kriteria pengujian : jika Lo nya lebih kecil dari L tabel, maka distribusi skor tersebut adalah normal. Sebaliknya jika Lo nya lebih besar dari L tabel , maka distribusi skor tersebut berdistribusi tidak normal.
Menghitung Homogenitas Dua Varians
Menghitung variansi, dengan rumus :
F = (Vb^2)/(Vk^2 )
Keterangan :
F = variansi yang dicari
Vb2 = variansi terbesar
Vk2 = variansi tekecil
Menentukan derajat kebebasan, dengan rumus :
db1 = n1 – 1
db2 = n2 – 1
Untuk mencari nilai F diperoleh dari tabel
Menentukan homogenitas
Kriteria pengujian homogenitas :
Dengan menggunakan distribusi F dengan taraf nyata (∝) = 0,05 dan derajat kebebasan (dk) = n1 – 1, apabila F hitung lebih kecil atau sama dengan F tabel, ( F < t="(X_1-X_2)/(sdg" sdg=" ((n_1-1)" v12 =" variansi" v22 =" variansi" sdg =" variansi">

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar